Dinkes Nabire Gelar Rakor P2P Tegaskan Sinergi Tekan HIV, TB dan Malaria
- 02 Sep 2026 09:41 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nabire menggelar Rapat Koordinasi (Rakor), Advokasi, dan Sosialisasi Lintas Sektor dalam rangka Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) ke-4 tahun 2026. Kegiatan yang dihadiri sekitar 120 peserta ini berlangsung selama empat hari, mulai Rabu hingga Sabtu 2–4 September 2026, bertempat di Aula Hotel Carmel, Kalibobo, Nabire.
Rakor ini menjadi ajang penting untuk memperkuat sinergitas antarinstansi dan mengevaluasi berbagai program pencegahan penyakit menular maupun tidak menular yang telah dijalankan sebelumnya. Pertemuan ini difokuskan pada upaya menyelaraskan langkah strategis agar target penanganan kesehatan dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga Kementerian Kesehatan dapat tercapai secara maksimal.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Silas Elias Numobogre, S.Kep, Ns, M.Kes, menegaskan bahwa jajarannya terus berkoordinasi secara intensif dengan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersebar di wilayah Nabire. Hal ini krusial mengingat Dinkes Nabire membawahi 32 Puskesmas yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan dasar masyarakat di daerah tersebut.
"Kami terus berkoordinasi dengan teman-teman di lini pelayanan. Di Kabupaten Nabire, kami memiliki 32 Puskesmas sebagai locus utama. Melalui Bidang P2P yang dipimpin Ibu Agustina Nelvin, berbagai jenis penyakit yang ada diarahkan penanganannya agar kita bisa mengejar dan mencapai target yang ditetapkan oleh pemerintah kabupaten, provinsi, hingga Kementerian Kesehatan," ujar Silas.
Silas menyoroti ancaman nyata dari sejumlah penyakit menular ekstrem yang hingga kini masih mengintai masyarakat Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Nabire. Beberapa penyakit seperti HIV, Tuberkulosis (TB), dan Malaria kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian warga, padahal memiliki tingkat risiko fatal yang sangat tinggi hingga mengancam keselamatan jiwa.
"Bagaimana caranya? Kami harus bisa mengendalikan penyakit-penyakit menular seperti HIV, TB, dan Malaria. Ini adalah jenis penyakit ekstrem yang sering terjadi di tengah masyarakat atau bisa dikatakan penyakit yang sudah merakyat. Sayangnya, masyarakat kadang menganggapnya sepele, padahal risiko terburuknya adalah memakan korban jiwa," tegasnya.
Lebih lanjut, Silas mengungkapkan bahwa wilayah Papua Tengah, termasuk Nabire yang kini telah menjadi ibu kota provinsi, masih tergolong dalam daerah endemis Malaria dengan tingkat penularan HIV dan TB yang terbilang sangat tinggi. Kondisi ini menuntut penanganan yang ekstra ketat serta keterlibatan aktif seluruh elemen pemerintah dan tokoh masyarakat setempat.
"Papua ini termasuk daerah endemis Malaria, dan untuk penularan kasus TB serta HIV ini angkanya sangat tinggi. Kalau dulu sering dibicarakan di Merauke atau Timika, sekarang kita di Nabire yang sudah menjadi provinsi juga menghadapi angka kasus HIV yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kita butuh langkah nyata dan fokus bersama," ungkap Kepala Dinkes Nabire tersebut.
Guna mengatasi persoalan penularan penyakit tersebut, Dinkes Nabire mendorong terbangunnya kembali relasi kerja yang solid antara jajaran tenaga kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan di tingkat distrik hingga kampung. Pendekatan advokasi dan kolaborasi lintas sektoral dinilai sebagai kunci utama agar penanganan masalah kesehatan tidak hanya dibebankan pada dinas kesehatan semata.
"Lewat rapat koordinasi lintas sektoral ini, kami ingin membangun kembali relasi kerja antara kepala kampung, kepala distrik, tokoh adat, tokoh agama, hingga teman-teman di Puskesmas. Kita butuh legitimasi bersama untuk masalah-masalah kesehatan yang ada. Advokasi ini harus dilakukan dengan bergandengan tangan, baik secara individual maupun secara menyeluruh di tengah masyarakat," tuturnya.
Melalui pelaksanaan Rakor P2P ke-4 ini, Dinkes Nabire berharap hasil pencapaian program kesehatan di tahun 2026 akan jauh lebih efektif dan berdampak positif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Evaluasi menyeluruh terhadap program kerja yang lalu dijadikan sebagai pijakan untuk merumuskan strategi penanggulangan penyakit yang lebih presisi dan terintegrasi.
"Kegiatan hari ini adalah Rakor yang ke-4. Intinya adalah evaluasi kegiatan lalu yang sudah dilaksanakan, dengan harapan ke depan hasilnya jauh lebih baik. Kuncinya ada pada koordinasi, komunikasi, dan kerja sama yang baik antara pemerintah kampung, distrik, dan kabupaten sebagai mitra kerja Dinas Kesehatan. Semua OPD dan stakeholder yang diundang hadir sebagai partner untuk bersama-sama melakukan advokasi masalah kesehatan menular maupun tidak menular," pungkas Silas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....