Makna dan Tema Hari Mangrove Sedunia 26 Juli

  • 26 Jul 2026 21:38 WIB
  •  Nabire
Poin Utama
  • Hari Mangrove Sedunia diperingati setiap 26 Juli sebagai momen global untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan mangrove sebagai pelindung wilayah pesisir.
  • UNESCO menetapkan Hari Mangrove Sedunia pada Konferensi Umum ke-38 tahun 2015 dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia mengenai nilai ekologis, ekonomi, sosial, dan budaya mangrove.
  • Ekosistem mangrove semakin terancam oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia, sehingga diperlukan upaya pelestarian dan pengelolaan yang berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Nabire - Setiap 26 Juli, dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia atau International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem. Peringatan ini menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan mangrove sebagai pelindung wilayah pesisir sekaligus mendorong upaya pelestarian ekosistem yang semakin terancam oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Hari Mangrove Sedunia ditetapkan oleh UNESCO pada Konferensi Umum ke-38 yang berlangsung pada tahun 2015. Melalui penetapan tersebut, UNESCO mengajak seluruh negara anggota untuk memperingati setiap 26 Juli sebagai hari internasional yang didedikasikan bagi konservasi ekosistem mangrove. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dunia mengenai nilai ekologis, ekonomi, sosial, dan budaya mangrove serta mendorong pengelolaan yang berkelanjutan.

UNESCO menjelaskan bahwa mangrove merupakan ekosistem unik yang tumbuh di kawasan peralihan antara daratan dan laut. Hutan bakau berfungsi sebagai habitat berbagai jenis ikan, kepiting, burung, dan satwa lainnya. Selain itu, mangrove menjadi benteng alami yang mampu mengurangi dampak gelombang besar, badai, tsunami, serta abrasi pantai. Mangrove juga dikenal sebagai salah satu penyerap karbon (blue carbon) paling efektif di dunia sehingga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Meski memiliki manfaat yang besar, UNESCO mencatat bahwa ekosistem mangrove mengalami kerusakan dengan laju tiga hingga lima kali lebih cepat dibandingkan hilangnya hutan secara umum. Dalam empat dekade terakhir, luas hutan mangrove dunia diperkirakan telah berkurang hingga sekitar setengahnya. Kondisi tersebut mengancam keanekaragaman hayati, ketahanan pangan masyarakat pesisir, serta meningkatkan risiko bencana di wilayah pantai.

Melalui peringatan Hari Mangrove Sedunia, UNESCO mendorong berbagai langkah nyata, mulai dari restorasi hutan mangrove, penelitian ilmiah, edukasi masyarakat, hingga penguatan kerja sama antara pemerintah, akademisi, komunitas lokal, dan organisasi internasional. Program-program UNESCO seperti Man and the Biosphere (MAB), World Heritage, dan UNESCO Global Geoparks turut berkontribusi dalam perlindungan dan pengelolaan kawasan mangrove di berbagai negara.

Di Indonesia, yang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia, peringatan ini memiliki arti yang sangat penting. Kementerian Lingkungan Hidup mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam aksi penanaman mangrove, edukasi lingkungan, serta penguatan kolaborasi dalam menjaga ekosistem pesisir. Untuk Hari Mangrove Sedunia 2026, Kementerian Lingkungan Hidup mengusung tema resmi "Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang". Tema tersebut menekankan bahwa pelestarian mangrove merupakan investasi bagi perlindungan lingkungan dan kehidupan generasi masa depan.

Hari Mangrove Sedunia menjadi pengingat bahwa menjaga hutan bakau bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Dengan melestarikan mangrove, dunia tidak hanya melindungi pesisir dari ancaman bencana, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati, memperkuat ketahanan iklim, dan memastikan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem pesisir. (Falen Nelwan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....