Kemenkes: Pemimpin Kesehatan Perlu Perkuat Integritas dan Eksekusi

  • 30 Sep 2026 16:41 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membuka Health Leadership Course yang diselenggarakan Asian Development Bank (ADB) di Jakarta, 28 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 60 peserta dari tujuh negara di Asia Tenggara untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dalam menghadapi tantangan dan mendorong reformasi sistem kesehatan di kawasan.

Dilansir dari website Kemenkes RI, dalam kegiatan tersebut Menkes Budi membagikan sejumlah prinsip kepemimpinan kepada peserta yang dipersiapkan menjadi pemimpin kesehatan di masa depan. Ia menekankan pentingnya integritas, kemampuan menyampaikan arahan secara jelas dan sederhana, storytelling, serta kemampuan mengeksekusi tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Menkes Budi, integritas menjadi salah satu prinsip utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Integritas dinilai penting untuk memastikan seorang pemimpin dapat dipercaya dalam menjalankan tanggung jawabnya kepada organisasi maupun negara.

“Pertama, atasan terbaik yang pernah saya temui adalah seseorang yang memiliki integritas. Untuk memastikan bahwa dia tidak akan membohongi Anda atau negara Anda, dia harus menjadi pribadi yang berintegritas,” ujar Menkes Budi.

Selain integritas, Menkes menekankan pentingnya kemampuan pemimpin dalam menyampaikan tujuan secara sederhana agar dapat dipahami seluruh anggota organisasi. Tujuan tersebut kemudian perlu diterjemahkan ke dalam cara kerja yang jelas dan dapat dilaksanakan.

Kementerian Kesehatan RI menjalankan agenda reformasi kesehatan melalui enam pilar, yakni reformasi layanan primer, layanan sekunder atau rumah sakit, ketahanan sistem kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, serta teknologi kesehatan.

Keenam pilar tersebut menjadi bagian dari upaya mencapai peningkatan angka harapan hidup dan angka harapan hidup sehat. Salah satu bentuk penguatan layanan primer dilakukan melalui dukungan pembiayaan ADB untuk pengadaan 10.000 USG dan 10.000 X-ray.

Menkes juga menilai kemampuan storytelling menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin perlu mampu menjelaskan alasan, proses, dan langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.

Kemampuan eksekusi juga menjadi perhatian. Menkes Budi menyampaikan bahwa target dan rencana perlu disertai kemampuan untuk mewujudkannya melalui langkah kerja yang jelas.

“Jika Anda hanya berbicara dan memiliki target tetapi tidak menunjukkan cara mengeksekusi dan mencapainya, Anda akan kehilangan kredibilitas di depan anggota Anda,” ujar Menkes.

Director Human and Social Development Sector Office ADB Eduardo Banzon mengatakan negara-negara anggota berkembang perlu memiliki peran utama dalam mengarahkan reformasi kesehatan di negaranya masing-masing. ADB, menurutnya, memberikan dukungan pembiayaan dan teknis terhadap agenda yang telah ditetapkan oleh masing-masing negara.

“Kami bukanlah jenis institusi yang datang dan mendikte suatu negara untuk 'lakukan ini' atau 'lakukan itu'. Peran utama kami adalah membantu pembiayaan dan memberikan dukungan teknis untuk hal-hal yang telah diputuskan oleh negara tersebut,” ujar Eduardo.

Eduardo menambahkan, penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan dan reformasi kesehatan. Kerja sama antarnegara juga diperlukan melalui kolaborasi regional, kemitraan dengan sektor swasta, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengarahkan reformasi kesehatan.

Sementara itu, Country Director Indonesia Resident Mission ADB Bobur Alimov menyebut kawasan Asia Tenggara menghadapi sejumlah tantangan kesehatan, termasuk populasi yang semakin menua, meningkatnya penyakit tidak menular, serta dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.

“Tidak ada satu pun dari tantangan ini yang dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja, maupun oleh satu negara saja. Ini membutuhkan para pemimpin untuk bekerja lintas sektor dan lintas negara, membangun kemitraan, serta mengarahkan perubahan,” ujar Bobur.

Menurut Bobur, pelaksanaan Health Leadership Course di Indonesia menjadi kesempatan bagi para peserta untuk bertukar pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan. Ia juga menyoroti agenda transformasi kesehatan Indonesia, termasuk penguatan layanan kesehatan primer, perluasan kesehatan digital melalui SATUSEHAT, dan Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN.

“Pengalaman Indonesia memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita semua,” kata Bobur.

Selama lima hari, peserta Health Leadership Course membahas sejumlah isu dalam sistem kesehatan, meliputi tata kelola, penyelenggaraan dan pembiayaan kesehatan, perubahan iklim dan One Health, pencegahan serta kesiapsiagaan dan respons pandemi, hingga kesehatan digital dan inovasi.

Peserta juga dijadwalkan mengunjungi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional serta sejumlah fasilitas kesehatan primer di Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan pemahaman peserta mengenai pelaksanaan reformasi kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....