Rupiah Menguat 0,18 Persen di Tengah Redanya Ketegangan Global

  • 05 Agt 2026 11:33 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire – Nilai tukar rupiah memulai perdagangan dengan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat pada Rabu, 5 Agustus 2026. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut mendorong sentimen positif di pasar keuangan.

Melansir Bloomberg Technoz, rupiah dibuka menguat sekitar 0,18 persen ke level Rp17.991 per dolar Amerika Serikat. Tidak lama kemudian, mata uang Garuda kembali menguat hingga mencapai Rp17.969 per dolar Amerika Serikat, sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Penguatan rupiah diikuti oleh apresiasi sejumlah mata uang Asia lainnya. Baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, disusul peso Filipina, dolar Taiwan, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan yen Jepang. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset di kawasan setelah muncul sinyal positif dari perkembangan geopolitik.

Sentimen utama berasal dari optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Harapan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai mampu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Meredanya ketegangan tersebut turut mendorong penurunan harga minyak mentah dunia. Harga minyak yang lebih rendah dipandang dapat mengurangi tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Di saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat juga mengalami pelemahan sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.

Dari sisi global, pasar juga mencermati perkembangan ketenagakerjaan di Amerika Serikat. Meskipun jumlah lowongan pekerjaan mengalami penurunan pada Juni 2026, aktivitas perekrutan masih menunjukkan ketahanan sehingga memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja tetap relatif stabil. Namun, pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang menjadi salah satu faktor utama pergerakan nilai tukar.

Sementara itu, dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi masih menjadi perhatian. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diperkirakan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Selain itu, defisit neraca perdagangan migas yang masih cukup besar turut menjadi tantangan bagi stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah.

Meski demikian, membaiknya sentimen eksternal memberi peluang bagi rupiah untuk mempertahankan penguatan dalam jangka pendek. Ke depan, pergerakan nilai tukar diperkirakan tetap dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, harga energi, kebijakan moneter Amerika Serikat, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....