Harga Perak Global Cetak Rekor Tertinggi 2025

  • 29 Nov 2025 18:26 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Harga perak dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang 2025 seiring meningkatnya permintaan global dan terbatasnya pasokan. Logam mulia yang kerap dijuluki sebagai “logam iblis” karena volatilitasnya ini sempat menyentuh level 54,47 dolar AS per troy ounce pada pertengahan Oktober 2025 atau melonjak 71 persen secara tahunan (year on year).

Kenaikan harga perak sejalan dengan reli harga emas yang tahun ini melampaui 4.000 dolar AS per ons. Meski sempat terkoreksi, harga perak kembali menguat di tengah krisis pasokan global.

Kepala Fixed Income ETF EMEA dan Manajemen Produk Komoditas di Invesco, Paul Syms, mengatakan tingginya permintaan bahkan memaksa distribusi perak dilakukan melalui jalur udara. “Dalam jangka panjang, ada dinamika berbeda kali ini yang membuat harga perak berpotensi tetap tinggi,” ujarnya yang dikutip dari CNBC International.

Lonjakan harga perak 2025 tercatat sebagai yang ketiga dalam 50 tahun terakhir setelah puncak pada 1980 dan 2011. Syms menyebut pasar perak jauh lebih kecil dibanding emas, sehingga lebih rentan terhadap gejolak harga.

Permintaan perak turut didorong oleh meningkatnya kebutuhan industri, terutama untuk kendaraan listrik, kecerdasan buatan, dan energi terbarukan. Perak juga menjadi logam strategis karena memiliki konduktivitas panas dan listrik yang tinggi.

Di Asia, India menjadi konsumen perak terbesar dunia dengan penggunaan sekitar 4.000 metrik ton per tahun. Harga perak di India bahkan melonjak hingga 170.415 rupee per kilogram pada Oktober 2025 atau naik 85 persen sejak awal tahun. Permintaan semakin menguat menjelang perayaan Diwali.

Namun, sekitar 80 persen pasokan perak India masih bergantung pada impor. Sementara itu, cadangan perak di London yang tersimpan di bawah pengawasan London Bullion Market Association terus menyusut. Pada Maret 2025, stok perak tercatat turun menjadi 22.126 metrik ton, terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Analisis Pasar EMEA dan Asia di StoneX, Rhona O’Connell, menyebut tekanan pasokan telah mendorong biaya pinjaman perak melonjak tajam. Bahkan, suku bunga sewa perak sempat menembus 200 persen per tahun pada Oktober 2025.

Berdasarkan Survei Perak Dunia 2025 yang dirilis Silver Institute, produksi tambang perak global menurun dalam 10 tahun terakhir. Dalam setahun terakhir, surplus perak mulai berubah menjadi defisit akibat pesatnya elektrifikasi kendaraan, perkembangan kecerdasan buatan, dan industri fotovoltaik.

Saat ini, satu kendaraan listrik rata-rata mengandung sekitar 25 gram perak. Jika teknologi baterai perak solid-state diterapkan secara luas, kebutuhan perak per kendaraan diperkirakan dapat mencapai satu kilogram.

Para analis menilai perak kini berada di persimpangan antara logam mulia dan logam industri. Dengan meningkatnya kebutuhan sektor energi bersih dan teknologi, harga perak diproyeksikan masih memiliki ruang untuk terus menguat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....