Sejarah Hari Puisi Nasional 28 April

  • 26 Apr 2026 18:30 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April, peringatan ini didedikasikan untuk mengenang wafatnya penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar, yang meninggal pada 28 April 1949.

Penetapan Hari Puisi Nasional tidak lepas dari sosok penyair besar Indonesia, Chairil Anwar, yang dikenal sebagai pelopor Angkatan ’45. Melalui puisi-puisinya yang penuh semangat, kritis, dan revolusioner, Chairil Anwar berhasil mengubah wajah sastra Indonesia dari yang sebelumnya kaku menjadi lebih bebas, ekspresif, dan sarat makna kehidupan.

Puisi berjudul “Aku” menjadi salah satu karya paling monumental yang hingga kini masih sering dikaji di berbagai lembaga pendidikan. Baris terkenalnya, “Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang”, mencerminkan semangat individualisme sekaligus perlawanan terhadap penindasan, yang sangat relevan dengan kondisi sosial pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu, Hari Puisi Nasional tidak hanya menjadi peringatan seremonial, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mencintai sastra. Berbagai kegiatan seperti pembacaan puisi, lomba cipta puisi, hingga diskusi sastra digelar di berbagai daerah sebagai upaya menghidupkan kembali kecintaan terhadap bahasa dan karya sastra Indonesia.

Puisi sendiri bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cerminan perasaan, kritik sosial, serta harapan yang dituangkan dalam bentuk yang paling estetis. Melalui puisi, suara-suara yang tidak terdengar dapat menemukan ruangnya.

Peringatan ini berbeda dengan Hari Puisi Indonesia yang terkadang diperingati pada tanggal lahir Chairil Anwar (26 Juli), namun secara tradisional, 28 April adalah tanggal yang berakar kuat sebagai Hari Puisi Nasional di Indonesia. (Falen Nelwan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....