Sumut Diproyeksikan Deflasi, Gunung Sitoli Cetak Lebih Tinggi
- 30 Jan 2026 22:28 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin memproyeksikan Sumut akan mengalami deflasi pada Januari 2026 setelah membukukan inflasi tinggi pada akhir tahun 2025. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang mendorong deflasi.
Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga di antaranya cabai merah turun sekitar 45 persen, cabai rawit turun sekitar 13 persen, bawang merah turun sekitar 15,4 persen, dan telur ayam turun sekitar 3,62 persen. Selanjutnya, gula pasir curah turun sekitar 6,6 persen, serta minyak goreng curah turun sekitar 18,2 persen.
“Sumatra Utara diproyeksikan mengalami deflasi minimal 0,56 persen secara bulanan (month to month) pada Januari 2026. Penurunan harga terutama berasal dari komoditas pangan hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah,” ujar Gunawan, Jumat 30 Januari 2026.
Meski demikian, ia menyebut masih terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga. Seperti daging ayam, daging sapi, bawang putih, gula pasir premium, minyak goreng kemasan hingga emas.
Gunawan menilai kondisi tersebut membuat tekanan inflasi pada awal tahun 2026 diperkirakan tidak akan terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan secara teknikal harga pangan pada Desember 2025 menjadi puncak tertinggi akibat gangguan pasokan yang dipicu bencana.
“Secara teknikal harga pangan di bulan Desember 2025 menjadi puncak tertinggi akibat gangguan pasokan. Kondisi tersebut memaksa harga pangan melemah, seiring dengan proses pemulihan pascabencana,” katanya.
| Baca juga: Delapan Daerah di Sumut Raih WTP |
Lebih lanjut, Gunawan menyebut sejumlah wilayah di Sumut berpotensi mencatat deflasi lebih besar dibandingkan rata-rata provinsi, khususnya Gunung Sitoli/Nias dan wilayah Tapanuli. Penurunan harga cabai menjadi indikator utama.
Ia menyebut berdasarkan hasil pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Gunung Sitoli saat ini berada di kisaran Rp33.750 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram, bahkan pada beberapa transaksi dilaporkan menembus Rp300 ribu per kilogram.
“Gunung Sitoli berpeluang mencetak deflasi lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di Sumut, karena penurunan harga cabai yang sangat signifikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, potensi deflasi di wilayah tersebut juga berpeluang berlanjut hingga Februari 2026. Namun, kondisi itu masih sangat bergantung pada besaran deflasi yang terjadi pada Januari mendatang.
“Potensi deflasi Gunung Sitoli pada bulan depan akan sangat bergantung dari besaran deflasi di Januari 2026, sehingga dinamika harga masih perlu terus dipantau,” kata Gunawan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....