Konflik Iran-AS Bayangi Pasar, IHSG dan Rupiah Menguat Terbatas

  • 16 Jul 2026 13:15 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat membuat pelaku pasar mengabaikan sejumlah sentimen positif yang seharusnya mampu menopang pasar keuangan domestik. Akibatnya, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026 berlangsung terbatas.

Menurut Gunawan, pasar keuangan sejatinya mendapat sentimen positif dari penilaian lembaga pemeringkat internasional S&P serta data inflasi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan. Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih berhati-hati.

"Pelaku pasar terlihat lebih berhati-hati setelah harga minyak mentah dunia mengalami peningkatan. Sentimen tersebut mengabaikan sejumlah kabar positif dari dalam negeri," ujarnya.

Di pasar saham, IHSG bergerak di dua zona sepanjang perdagangan, yakni pada kisaran 6.007 hingga 6.081, sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0,04 persen ke level 6.041,972. Penguatan tersebut ditopang sejumlah saham berkapitalisasi besar, di antaranya BMRI, BBRI, ANTM, RANS, dan DEWA. Sementara mayoritas bursa saham di Asia juga ditutup di zona hijau.

Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp18.060 per dolar Amerika Serikat. Meski demikian, dibandingkan sesi pembukaan perdagangan, rupiah sempat mengalami tekanan seiring menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (USD Index) ke kisaran 100,9.

Menurut Gunawan, penguatan dolar AS juga terjadi terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya, seperti yen Jepang, dolar Hong Kong, dan rupee India.

Ia menjelaskan, konflik yang kembali memanas antara Iran dan Amerika Serikat, disertai ancaman serangan lanjutan serta kekhawatiran terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, kembali memicu kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi global.

"Aksi jual beli serangan antara Iran dengan AS, serta ancaman AS yang akan kembali menyerang Iran jika menolak berunding, ditambah kekhawatiran akan kembali ditutupnya Selat Hormuz, memicu sentimen negatif di pasar karena inflasi kembali menjadi ancaman ke depan," katanya.

Di sisi lain, harga emas dunia bergerak relatif stabil di kisaran 4.031 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,35 juta per gram. Menurut Gunawan, meski data inflasi AS melemah, kondisi tersebut belum cukup memperkuat spekulasi penurunan suku bunga acuan The Fed karena ketidakpastian geopolitik masih mendominasi sentimen pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....