Makan Bersama Bisa Meningkatkan Kesejahteraan Mental

  • 31 Mar 2026 18:26 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan: Ada istilah, makan enggak makan asal kumpul. Namun, pernahkah berkumpul tetapi tidak makan? Hal itu sepertinya jarang terjadi, terutama dalam budaya Indonesia. Jika tidak ada makanan yang tersedia pun biasanya setiap orang akan berinisiatif membawa makanan sendiri kemudian bisa dimakan bersama-sama atau yang biasa disebut potluck.

Pada akhirnya, makanan yang dibawa akan saling dibagikan. Makanan yang lebih masih akan dibawa untuk dibagikan lagi bersama orang di rumah. Kebahagiaan dari berbagi makanan seperti tidak ada henti-hentinya.

Berbagi makanan ternyata memang menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan kebahagiaan bagi seseorang. Menurut Laporan Kebahagiaan Dunia pada tahun 2025, berbagi makanan bahkan menjadi indikator yang paling kuat dalam menentukan kesejahteraan yang setara dengan faktor pendapatan dan pengangguran.

Dalam laporan itu disebutkan, orang yang lebih banyak berbagi makanan dengan orang lain memiliki tingkat kepuasaan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang kurang berbagi. Hal ini berlaku di semua usia, jenis kelamin, negara, budaya, dan wilayah.

Dijelaskan pula dalam laporan tersebut bahwa berbagi makanan juga berkaitan erat dengan tingkat keterhubungan sosial. Di negara-negara dengan orang yang lebih banyak berbagi makanan mempunyai tingkat dukungan sosial dan timbal balik positif yang lebih tinggi serta memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah.

Keterkaitan antara berbagi makanan dan manfaat sosial sebenarnya sudah dibuktikan dalam beberapa studi sebelumnya. Dalam studi yang dipublikasikan dalam Clinical Nutrition pada April 2023 disebutkan, remaja yang makan lebih banyak dengan anggota keluarganya akan punya kebiasaan pola makan dan nutrisi yang lebih baik.

Iklan

Iklan

Remaja juga berpotensi memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi dan lebih sedikit depresi daripada teman sebayanya yang makan sendiri meski kondisi ini sekarang mulai berpengaruh dengan meningkatnya penggunaan telepon pintar selama waktu makan.

Selain itu, kaitan berbagi makan dan kesejahteraan juga ditunjukkan dari studi yang dilakukan di China pada 9.000 orang dewasa dan orang lanjut usia. Berbagi makanan dengan orang lain dikaitkan dengan tingkat depresi yang lebih rendah.

Namun, pada laporan Kebahagiaan Dunia 2025, tren makan bersama kini semakin ditinggalkan. Lebih banyak orang memilih makan sendiri dibandingkan makan bersama orang lain. Alasan efisiensi waktu dan kesibukan paling banyak disampaikan.

Di Amerika, satu dari empat orang makan sendiri setiap kali makan. Jumlah ini meningkat 53 persen sejak tahun 2003. Amerika Serikat berada di peringkat ke-69 dari 142 negara yang diteliti terkait kebiasaan makan bersama. Namun kebiasaan itu masih banyak dijumpai di sejumlah negara, seperti Senegal, Gambia, Malaysia, dan Paraguay.

Dengan kebiasaan makan bersama tersebut, orang-orang yang berada di negara dengan tingkat berbagi makanan yang tinggi menyatakan adanya dukungan sosial yang lebih kuat dan tingkat kesepian lebih rendah.

Karena itu, adanya perubahan kebiasaan masyarakat yang tidak lagi sering makan bersama tidak sekadar menunjukkan perubahan gaya hidup namun dapat berdampak pada masalah kesehatan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....