Menhaj: Transformasi Haji Harus Hadir dalam Pelayanan Jemaah Haji
- 28 Jun 2026 06:07 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Jakarta — Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Moch. Irfan Yusuf, menegaskan transformasi penyelenggaraan haji dan umrah harus diwujudkan melalui tata kelola yang terintegrasi, transparan, profesional, serta berorientasi penuh pada kepentingan jemaah haji. Menurutnya, transformasi tidak cukup hanya dengan pembentukan kelembagaan, tetapi harus menghadirkan perubahan nyata dalam sistem pelayanan.
Hal tersebut disampaikan Irfan Yusuf saat membuka International Islamic Expo (IIE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), pada Jumat, 26 Juni 2026. Ia menekankan bahwa pembenahan harus menyentuh seluruh aspek penyelenggaraan, mulai dari regulasi, data, standar pelayanan, hingga pengawasan.
"Transformasi haji dan umrah tidak boleh berhenti pada seremoni. Transformasi harus hadir dalam sistem, regulasi, data, standar pelayanan, dan pengawasan agar setiap jemaah haji merasakan pelayanan yang semakin baik," ujarnya.
Irfan mengatakan pembentukan Kementerian Haji dan Umrah merupakan bagian dari reformasi tata kelola penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Kehadiran kementerian tersebut diharapkan mampu mempercepat pengambilan kebijakan, memperkuat akuntabilitas, serta mengintegrasikan data, sumber daya manusia, aset, dan sistem pelayanan.
Irfan menjelaskan, transformasi yang dijalankan Kemenhaj diarahkan untuk mewujudkan tiga sasaran utama, yakni sukses ritual, sukses pengembangan ekosistem ekonomi haji, serta sukses keadaban dan peradaban. Pengalaman penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 M yang melayani 203.149 jemaah haji dalam 527 kelompok terbang menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas layanan pada musim haji mendatang.
Ke depan, Kemenhaj akan memprioritaskan percepatan penerbitan visa melalui integrasi data, digitalisasi layanan, penguatan standar asrama haji, peningkatan pengawasan penyelenggara, serta penyediaan layanan yang lebih ramah bagi jemaah haji lanjut usia, penyandang disabilitas, dan jemaah haji berisiko tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, Irfan juga menyebut International Islamic Expo 2026 sebagai momentum memperkuat kolaborasi pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional dalam membangun ekosistem haji dan umrah yang sehat dan berkelanjutan. Pameran yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 itu diikuti lebih dari 100 peserta pameran, sekitar 3.000 buyer, serta delegasi dari 16 negara.
"IIE 2026 harus menjadi momentum konsolidasi besar. Kita ingin ekosistem haji dan umrah memberikan manfaat yang lebih luas. Jemaah haji memperoleh pelayanan terbaik, penyelenggara semakin profesional, pelaku usaha nasional tumbuh, dan tata kelolanya semakin transparan serta akuntabel. Itulah arah transformasi yang sedang kita bangun," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....