Rupiah dan IHSG Melemah di Awal Pekan, Harga Minyak Dunia Justru Naik
- 14 Sep 2026 09:55 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan di awal pekan. Harga minyak mentah jenis Brent yang sebelumnya bergerak stabil di rentang 100 hingga 104 dolar AS per barel, kini kembali naik ke level 106 dolar AS per barel di tengah kabar serangan terhadap kapal pengangkut minyak di Selat Hormuz.
Gunawan mengatakan, kenaikan harga minyak mentah tersebut terjadi setelah Iran dikabarkan akan bertemu dengan sejumlah perwakilan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas situasi Selat Hormuz.
“Pasar saham di Asia merespon dengan mayoritas dibuka melemah pada sesi perdagangan pagi. IHSG juga mengalami pelemahan di sesi pembukaan perdagangan pada level 6.533,” ujar Gunawan, Senin, 14 September 2026.
Menurutnya, kinerja mata uang Rupiah juga turut mengalami tekanan dengan ditransaksikan di kisaran level 17.610 per dolar AS. Minimnya sentimen pada awal pekan membuat pasar keuangan cenderung merespon negatif perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Gunawan menyebut, dalam sepekan ke depan akan terdapat sejumlah agenda ekonomi penting yang menjadi perhatian pelaku pasar. China dijadwalkan merilis sejumlah data ekonomi penting yang akan menjadi sorotan, khususnya bagi pelaku pasar di negara emerging market Asia, sebelum kemudian disusul rilis berbagai data ekonomi dari Amerika Serikat.
“Dari semua data penting yang akan tersaji dalam sepekan ke depan, kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral AS yang akan menjadi isu utama yang akan menggerakkan sektor keuangan,” katanya.
Sementara itu, harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level 4.350 dolar AS per ons troy atau sekitar 2,47 juta rupiah per gram. Gunawan menilai kenaikan harga minyak mentah dunia kembali memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi.
Ia menambahkan, kekhawatiran tersebut diperkuat oleh data inflasi Amerika Serikat pada pekan sebelumnya yang menunjukkan arah kebijakan moneter The Fed berpotensi kembali mengarah pada kebijakan yang lebih ketat. Kondisi tersebut tercermin dari imbal hasil US Treasury yang nyaris menyentuh level 5 persen atau berada di kisaran 4,9 persen.
“USD Index chart masih berada di kisaran level 99. Dua indikator keuangan AS tersebut tetap memberikan kemungkinan tekanan pada harga emas maupun mata uang Rupiah dalam jangka pendek,” ujar Gunawan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....