Eskalasi Konflik Iran-AS Tekan Pasar, Harga Minyak Tembus $101 Per Barel
- 10 Sep 2026 17:04 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang memasuki bulan ketujuh terus memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global. Kabar mengenai penghancuran kapal tanker milik Iran oleh AS kembali memicu kekhawatiran pasar dan mendorong harga minyak mentah jenis Brent menembus level 101,1 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis, 10 September 2026 pagi.
“Sentimen buruk eksternal sangat mendominasi tekanan pada pasar keuangan di Asia pada pagi ini,” ujar Gunawan.
Gunawan menyebut kenaikan harga minyak mentah tersebut memicu koreksi di bursa saham Amerika Serikat yang kemudian diikuti oleh pelemahan mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Namun, IHSG justru bergerak berbeda dengan dibuka menguat ke level 6.688 pada sesi pembukaan perdagangan.
Pergerakan IHSG tersebut menunjukkan anomali karena mampu menguat ketika mayoritas bursa saham Asia berada di bawah tekanan. Meski demikian, pelemahan Rupiah dan memburuknya sentimen eksternal membuat IHSG tetap rentan mengalami koreksi selama sesi perdagangan berlangsung.
Sementara itu, mata uang Rupiah pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini ditransaksikan melemah ke level 17.515 per dolar AS. Pelemahan Rupiah, ditambah memburuknya kinerja mayoritas bursa saham Asia, menjadi tekanan tersendiri bagi pasar keuangan domestik.
Menurut Gunawan, sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan pasar keuangan Asia pada perdagangan pagi. Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga tengah mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting Amerika Serikat, khususnya data inflasi produsen dan konsumen.
Ia menilai pelaku pasar masih melihat peluang realisasi data inflasi AS yang dapat membuat arah kebijakan Bank Sentral AS atau The Fed tidak bernada hawkish.
“Sejauh ini pelaku pasar masih melihat potensi realisasi data inflasi yang bisa membuat arah kebijakan Bank Sentral AS atau The Fed tidak bernada hawkish,” katanya.
Indikasi sikap wait and see pelaku pasar juga terlihat dari pergerakan harga emas yang cenderung menguat di kisaran 4.417 dolar AS per ons troy pada perdagangan hari ini. Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas berada di kisaran 2,5 juta rupiah per gram.
Gunawan menyebut, pelaku pasar komoditas emas masih memilih menunggu rilis data inflasi AS sebelum menentukan arah perdagangan selanjutnya. Perkembangan data tersebut akan menjadi salah satu penentu penting bagi ekspektasi kebijakan The Fed di tengah tekanan geopolitik dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....