IHSG Bergerak Anomali saat Geopolitik Bergejolak, Harga Emas Tertekan
- 01 Sep 2026 19:31 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pergerakan pasar keuangan domestik bergerak anomali di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Hal itu terlihat dari penguatan IHSG, sementara harga emas justru kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 1 September 2026.
Gunawan menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia secara tahunan berada di level 3,19 persen dan secara bulanan sebesar 0,2 persen. Sementara itu, neraca perdagangan pada Juli mencatat surplus sekitar 130 juta dolar AS, setelah sebelumnya mengalami defisit. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan tanah air.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah ditutup stabil di level Rp17.710 per dolar AS. Rupiah sempat melemah terbatas hingga Rp17.730, namun berbalik menguat pada sesi perdagangan kedua.
Sementara itu, IHSG ditutup menguat signifikan 1,14 persen ke level 6.599,943. Gunawan menilai penguatan IHSG tersebut anomali karena mayoritas bursa saham di Asia justru ditutup melemah. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.535 hingga 6.608 dan sempat tertahan di level psikologis 6.600.
“Anomali yang terjadi pada IHSG pada hari ini mengabaikan sentimen buruk dari kenaikan harga minyak mentah jenis Brent ke level 92 dolar AS per barel,” ujar Gunawan.
Menurutnya, IHSG masih mendapatkan dukungan dari rilis data ekonomi domestik serta derasnya arus investasi asing yang masuk ke pasar saham. Namun, pelaku pasar tetap dihantui kekhawatiran terhadap perkembangan geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi.
“Aksi saling serang kembali terjadi antara AS dengan Iran, yang memicu kekhawatiran potensi kenaikan inflasi yang akan menggerus kinerja emiten di pasar saham,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, harga emas dunia kembali terkoreksi ke kisaran 4.379 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,5 juta per gram. Gunawan menilai harga emas masih terombang-ambing mengikuti perkembangan tensi geopolitik yang belum menentu.
“Pelaku pasar tetap dihantui rasa kuatir dari tensi geopolitik yang mulai mengerek kenaikan harga energi,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....