Erupsi Sinabung Terhenti Harga Pangan Sumut Masih Mahal

  • 08 Sep 2026 20:07 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan meskipun status Gunung Sinabung masih berada pada Level III atau Siaga, aktivitas erupsi mulai terhenti dan tidak lagi memuntahkan awan panas dalam jumlah signifikan. Namun, harga pangan khususnya sayur-sayuran masih bertahan mahal hingga saat ini.

“Berdasarkan hasil pemantauan melalui PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis), di Kota Medan harga cabai merah menyentuh Rp56 ribu per kilogram di Pasar Petisah. Harga tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak awal September ini. Selanjutnya harga cabai rawit juga terpantau bergerak stabil di kisaran Rp60 ribu per kilogram di pasar yang sama,” ujar Gunawan, Selasa, 8 September 2026.

Selain itu, dari hasil pengamatan langsung, harga cabai caplak merah mengalami kenaikan tajam dari sebelumnya stabil di kisaran Rp65 ribuan per kilogram, menjadi Rp78 ribu per kilogram. Selanjutnya, harga tomat juga terpantau naik dari kisaran Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram.

Gunawan menyebut harga gula pasir juga mulai mengalami kenaikan pada September. Kenaikan tersebut memang belum terjadi secara merata, namun berdasarkan pemantauan melalui PIHPS Kota Medan, harga gula pasir di Pusat Pasar naik sekitar Rp250 per kilogram.

“Saya memproyeksikan harga gula pasir berpeluang naik serentak nantinya, dan berpeluang mendorong kenaikan laju tekanan inflasi,” katanya.

Gunawan menyebut, seperti yang telah diproyeksikan sebelumnya, inflasi di Sumatera Utara masih berada dalam tren meningkat pada September. Sejauh ini, komoditas cabai dan gula pasir telah memberikan sumbangan terhadap inflasi, sementara harga daging ayam dan beras masih bertahan mahal.

Harga minyak goreng juga berpeluang mengalami kenaikan mengingat harga CPO saat ini berada di kisaran 4.978 ringgit per ton. Harga CPO berpeluang kembali menguji level 5.000 ringgit per ton seperti yang pernah dicapai pada akhir Agustus.

Dengan potensi kenaikan sejumlah harga kebutuhan masyarakat pada September ini, Gunawan mengimbau pemerintah, khususnya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), untuk mewaspadai potensi gangguan pasokan dan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga lanjutan.

“Produksi sejumlah kebutuhan pangan masih dihantui ancaman bencana alam dan musim kemarau panjang atau El Nino. Faktor alam menjadi variabel yang sulit diproyeksikan dan memiliki daya rusak yang besar serta tentunya dapat memicu lonjakan inflasi,” katanya.

Gunawan menilai harga pangan belakangan ini masih rawan bergejolak, di tengah kombinasi bencana alam dan faktor musim yang berpotensi mengancam kekeringan lahan pertanian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....