Data Desil Tidak Selalu Sesuai Kondisi Warga, Ada Dua Hal Utama Pemicunya
- 01 Sep 2026 18:04 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai keluhan masyarakat terkait peringkat desil terjadi karena penilaian kesejahteraan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat secara aktual. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu masyarakat mengajukan perubahan peringkat atau desil.
“Saya menilai ada dua hal utama yang memicu keluhan masyarakat terkait dengan peringkat status desil. Yang pertama dipicu oleh penilaian desil yang mengandalkan indikator pendekatan secara tidak langsung atau proxy means testing,” ujar Gunawan, Selasa, 1 September 2026.
Ia menjelaskan, penentuan desil menggunakan sejumlah indikator, seperti kondisi bangunan rumah, kepemilikan aset, pekerjaan, pendidikan hingga penggunaan daya listrik. Menurutnya, pendekatan tersebut memiliki kelemahan dalam hal akurasi pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Gunawan mencontohkan seorang sopir mobil rental yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan menempati rumah permanen warisan. Berdasarkan indikator tersebut, orang tersebut dapat dengan mudah dikategorikan sebagai masyarakat yang relatif mapan.
“Padahal jika ditelusuri lebih dalam, bisa saja ditemukan fakta bahwa pekerjaannya tidak menentu, mobil lebih sering parkir daripada mengangkut penumpang, pendapatannya lebih rendah dari pengeluaran kebutuhan dasar, terjerat utang, atau kondisi lainnya yang membuat pengelompokan kesejahteraannya memiliki kesalahan atau deviasi,” katanya.
Menurut Gunawan, potensi ketidakakuratan juga dapat terjadi apabila indikator proxy diterapkan secara homogen pada suatu kelompok masyarakat. Misalnya, masyarakat yang tinggal di kawasan perumahan mewah secara keseluruhan diasumsikan berada pada desil 10.
“Bisa saja pendekatan tersebut benar menggambarkan bahwa rata-rata masyarakat di dalamnya masuk dalam desil 10. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan dalam pendekatan tersebut,” ucap Gunawan.
Faktor kedua, lanjut Gunawan, adalah perubahan status sosial ekonomi masyarakat yang berlangsung cepat di tengah dinamika perekonomian. Kondisi tersebut membuat data kesejahteraan yang tidak diperbarui secara berkala berisiko tidak lagi mencerminkan kondisi masyarakat yang sebenarnya.
Ia mencontohkan perubahan pendapatan pengemudi ojek online. Ketika industri tersebut mulai berkembang, banyak pengemudi yang mampu memperoleh pendapatan hingga lebih dari Rp10 juta per bulan. Namun, kondisi tersebut belum tentu menggambarkan situasi pendapatan mereka saat ini.
“Bagaimana kita membayangkan pendapatan driver ojol saat industri jasa ini mulai hadir di tengah kita. Banyak yang memberitakan pendapatan ojol mencapai dua digit, tetapi lihat situasinya sekarang,” katanya.
Karena itu, Gunawan menyarankan masyarakat segera mengecek status desil masing-masing dan mengajukan perubahan data apabila peringkat tersebut tidak menggambarkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Ia juga meminta perangkat pemerintah di tingkat kelurahan atau desa hingga kepala lingkungan lebih adaptif dalam melihat perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Perangkat pemerintah setempat, mulai dari lurah atau kepala desa hingga kepala lingkungan, harus seadaptif mungkin melihat perubahan kondisi sosial ekonomi warganya. Lakukan pengecekan satu per satu status desil warga agar segera mengajukan perubahan data atau klarifikasi jika desil tersebut tidak menggambarkan kondisi sosial ekonomi warganya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....