Gencatan Senjata Iran-AS Berakhir, Pasar Kembali Waspadai Minyak

  • 18 Agt 2026 20:27 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan berakhirnya masa gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Tidak adanya kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dinilai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan, terutama melalui kenaikan harga minyak mentah dunia.

Gunawan mengatakan masa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berakhir pada 17 Agustus 2026. Kondisi tersebut semakin diperburuk setelah Amerika Serikat menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.

"Pasar keuangan kembali dihantui ketakutan akan eskalasi perang yang memburuk setelah masa gencatan sementara antara Iran dengan AS berakhir. Tidak ada kesepakatan gencatan lanjutan antara kedua belah pihak," ujar Gunawan, Selasa, 18 Agustus 2026.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut mulai tercermin pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah jenis Brent pada perdagangan pagi naik ke kisaran 91 dolar AS per barel karena pasar mengantisipasi potensi memburuknya konflik geopolitik dalam waktu dekat.

Di tengah tekanan tersebut, mayoritas bursa saham di Asia pada perdagangan pagi ditransaksikan melemah. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka menguat ke level 6.488 setelah pada perdagangan Senin pasar saham Indonesia libur.

Gunawan menjelaskan, penguatan IHSG pada awal perdagangan lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan bursa saham Asia pada saat IHSG tidak diperdagangkan pada Senin. Meski demikian, penguatan tersebut dinilai masih rentan berbalik arah seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

"Sekalipun IHSG mengalami penguatan yang signifikan di sesi perdagangan pagi, kinerjanya rawan terkoreksi hingga penutupan perdagangan. Terlebih mata uang rupiah pada sesi perdagangan pagi melemah ke kisaran Rp17.840 per dolar AS," katanya.

Gunawan menilai pelemahan rupiah di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia dapat memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan domestik. Rupiah juga berpeluang bertahan di zona merah apabila pelemahan tersebut tidak diimbangi dengan intervensi Bank Indonesia.

Selain menekan rupiah dan IHSG, kenaikan harga minyak mentah dunia juga meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga global.

Sementara itu, harga emas dunia justru mengalami koreksi ke kisaran 4.404 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,53 juta per gram. Padahal, pada perdagangan Senin, harga emas sempat menguat ke kisaran 4.428 dolar AS per ons troy.

Gunawan menyebut tekanan terhadap harga emas terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali mencermati kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....