Sumut Diproyeksikan Alami Inflasi pada Juli, Harga Beras Jadi Pemicu Utama

  • 31 Jul 2026 23:25 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara Gunawan Benjamin memproyeksikan Provinsi Sumatera Utara masih akan mengalami inflasi pada Juli 2026. Salah satu penyumbang utama kenaikan inflasi diperkirakan berasal dari naiknya harga beras, disusul sejumlah komoditas pangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Gunawan menjelaskan, kenaikan harga daging ayam dalam dua pekan terakhir belum memberikan dampak signifikan terhadap inflasi Juli karena rata-rata kenaikannya masih sekitar 1 persen. Hal serupa juga terjadi pada telur ayam yang meski mengalami kenaikan akibat berakhirnya libur sekolah dan kembali bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun rata-rata harganya masih lebih rendah dibandingkan Juni.

"Daging ayam dan telur tetap menyumbang inflasi, tetapi dampaknya pada Juli relatif kecil. Kontribusi yang lebih besar justru diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang," ujar Gunawan, Kamis, 30 Juli 2026.

Menurutnya, sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga selama Juli antara lain beras sebesar 1,5 hingga 5 persen, bawang putih sekitar 2,1 persen, cabai rawit hijau hingga 54 persen, susu bubuk sekitar 7 persen, tomat 10 persen, wortel 14 persen, serta bayam, sawi hijau, dan kentang.

Selain bahan pangan, sejumlah kebutuhan rumah tangga seperti sampo, pembalut, popok bayi, hingga bahan bangunan seperti besi, semen, dan cat tembok juga mengalami kenaikan harga. Sementara itu, harga batu bata justru cenderung turun dibandingkan saat kenaikan harga material bangunan terjadi beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga, seperti bawang merah sekitar 16 persen dan cabai merah sekitar 19 persen. Namun, Gunawan menilai harga cabai merah di pasar modern masih relatif tinggi akibat kebijakan pengelolaan stok oleh ritel.

"Secara keseluruhan Sumatera Utara masih berpeluang mencatat inflasi di atas 0,17 persen pada Juli. Pemerintah perlu mewaspadai tekanan inflasi hingga akhir tahun yang diperkirakan lebih banyak dipengaruhi faktor cuaca dan pelemahan nilai tukar rupiah," katanya.

Ia menambahkan, kenaikan biaya produksi pertanian setelah konflik Iran - Amerika Serikat turut meningkatkan harga pokok produksi. Jika harga jual hasil pertanian nantinya berada di bawah biaya produksi, kondisi tersebut berpotensi memicu kesulitan modal bagi petani, peningkatan utang, hingga alih fungsi lahan yang pada akhirnya dapat membuat inflasi semakin sulit dikendalikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....