Tekanan Rupiah Berlanjut, Diperlukan Dukungan Kebijakan Fiskal
- 24 Jun 2026 21:49 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai berbagai langkah yang telah ditempuh Bank Indonesia untuk menahan pelemahan rupiah belum mampu memberikan hasil yang berkelanjutan. Menurutnya, meski sejumlah kebijakan moneter telah dilakukan secara agresif, nilai tukar rupiah masih terus berada di bawah tekanan dan kembali mendekati level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat.
Ia menyebut pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, rupiah tercatat melemah hingga ke level Rp17.950 per dolar AS atau nyaris kembali menyentuh level psikologis Rp18 ribu per dolar AS.
Gunawan menjelaskan, Bank Indonesia sebelumnya telah mempercepat pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur dan menaikkan suku bunga acuan secara signifikan untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
"Yang paling terlihat, Bank Indonesia melaksanakan rapat dewan gubernur lebih cepat dari jadwal normal. Hasilnya adalah kenaikan suku bunga acuan hingga 100 basis poin. Namun tidak butuh waktu lama, rupiah tetap saja kembali mencoba melemah ke kisaran Rp18 ribu per dolar AS," kata Gunawan.
Selain menaikkan suku bunga, Bank Indonesia juga mendorong kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI yang sempat mencapai 7,5 persen. Kebijakan tersebut sempat menarik aliran dana dan mendorong penguatan rupiah, meskipun hanya berlangsung sementara.
Menurut Gunawan, berbagai operasi moneter yang dilakukan BI, termasuk intervensi langsung ke pasar, memang cukup efektif untuk meredam gejolak dalam jangka pendek. Namun langkah tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan berpotensi membebani perekonomian apabila dilakukan secara terus-menerus.
"Upaya yang dilakukan BI pastinya berbiaya mahal dengan menguras cadangan devisa dan membebani dunia usaha. Pendekatan moneter seperti ini jika dilanjutkan secara terus menerus akan membuat fundamental ekonomi menjadi rapuh dan rentan terhadap krisis," ujarnya.
Gunawan menambahkan, stabilisasi rupiah tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan moneter. Ia menilai diperlukan dukungan kebijakan fiskal yang lebih kuat untuk mengatasi faktor-faktor fundamental yang menekan nilai tukar.
Menurutnya, pengalaman Jepang dapat menjadi pelajaran bahwa pendekatan moneter yang agresif belum tentu mampu menguatkan mata uang secara berkelanjutan. Meski memiliki fundamental ekonomi yang relatif kuat, yen Jepang juga masih menghadapi tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....