Rupiah Menguat Rp17.865 per Dolar AS, IHSG Tembus Level 6.000

  • 14 Jun 2026 20:43 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kompak menguat pada perdagangan akhir pekan. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan penguatan rupiah terjadi seiring dengan penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara atau SBN tenor 10 tahun yang menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.

Rupiah ditutup menguat tajam ke level Rp17.865 per dolar Amerika Serikat. Pada saat yang sama, indeks dolar AS atau USD Index melemah ke level 99,65. Sementara itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun ke level 7,17 persen.

Menurut Gunawan, penurunan yield mengindikasikan kenaikan harga obligasi yang diperdagangkan, dan menjadi katalis positif bagi pergerakan rupiah.

"Penurunan yield tersebut pada dasarnya menjadi katalis positif bagi mata uang rupiah. Dimana penurunan yield mengindikasikan adanya kenaikan harga obligasi yang ditransaksikan," kata Gunawan, Jumat, 12 Juni 2026.

Penguatan rupiah turut mendorong optimisme di pasar saham. IHSG ditutup menguat 2,07 persen ke level 6.007,66. Sejumlah emiten yang memberikan kontribusi positif terhadap penguatan indeks antara lain BBCA, BUMI, AMMN, ANTM, dan TPIA.

Di pasar global, harga minyak mentah dunia masih bertahan di bawah level 90 dolar AS per barel. Kondisi tersebut didorong oleh harapan akan tercapainya kesepakatan damai tertulis antara Iran dan Amerika Serikat. Sentimen tersebut dinilai mampu memperbaiki prospek pasar keuangan dalam jangka pendek.

"Situasi ini memberikan gambaran positif akan kemungkinan membaiknya kinerja pasar keuangan dalam jangka pendek. Kinerja sektor keuangan diproyeksikan akan mengalami pemulihan, seandainya tercipta perjanjian damai antara kedua belah pihak," ujarnya.

Sementara itu, harga emas dunia juga mencatat penguatan. Emas diperdagangkan di kisaran 4.216 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,43 juta per gram. Kenaikan harga emas terjadi di tengah membaiknya sentimen geopolitik di kawasan Selat Hormuz, yang masih menjadi perhatian pelaku pasar global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....