Bank Indonesia Naikkan Bunga Acuan, IHSG dan Rupiah Menguat Tajam

  • 10 Jun 2026 07:46 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen mendapat respons positif dari pasar keuangan domestik. Menurutnya, langkah tersebut sebenarnya telah diperkirakan oleh pelaku pasar, sebagai upaya Bank Indonesia menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami pelemahan.

"Pasar sudah membaca kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Tujuannya untuk meredam tekanan terhadap rupiah," kata Gunawan, Selasa, 9 Juni 2026.

Respons positif langsung terlihat pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 7,57 persen ke level 5.746,648. Sementara itu, nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan tajam dan ditutup pada level Rp18.050 per dolar AS.

Gunawan menilai kebijakan moneter yang diambil Bank Indonesia sejauh ini berhasil meningkatkan kepercayaan pasar. Namun, ia mengingatkan penguatan yang terjadi belum sepenuhnya menjamin kondisi pasar keuangan akan stabil dalam jangka panjang.

"Masih ada sejumlah risiko besar yang mengintai. Terutama terkait eskalasi konflik geopolitik global yang belakangan semakin memanas," ujarnya.

Ia menjelaskan perhatian investor ke depan tidak hanya tertuju pada kebijakan moneter Bank Indonesia, tetapi juga pada kebijakan fiskal pemerintah. Menurutnya, arah kebijakan fiskal akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan IHSG maupun rupiah dalam beberapa bulan mendatang.

Gunawan menegaskan penguatan pasar hari ini tidak boleh diartikan kenaikan suku bunga selalu menjadi solusi utama untuk menyelamatkan rupiah dan pasar saham.

"Pandangan seperti itu kurang tepat. Yang perlu dipastikan adalah kebijakan fiskal mampu menjaga kebutuhan dasar masyarakat, mengendalikan impor, serta memperkuat fundamental ekonomi nasional," katanya.

Ia menambahkan sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, dan mencegah munculnya gejolak baru di tengah ketidakpastian global.

Selain pasar saham dan nilai tukar, pasar obligasi juga diperkirakan akan menjadi perhatian utama investor sepanjang Juni 2026. Menurut Gunawan, kemampuan pemerintah menyerap likuiditas valuta asing melalui penerbitan surat berharga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.

Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan hari ini bergerak relatif stabil di level 4.330 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,52 juta per gram. Gunawan menilai pergerakan emas saat ini masih dipengaruhi pelemahan dolar AS yang terjadi, setelah respons positif pasar terhadap kebijakan moneter domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....