Cadangan Devisa Turun, Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.200 per Dolar
- 09 Jun 2026 20:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pasar keuangan domestik kembali mengalami tekanan berat setelah cadangan devisa Indonesia tercatat mengalami penurunan signifikan pada Mei 2026.
Menurutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 4,52 persen ke level 5.432,137. Bahkan sepanjang perdagangan, IHSG sempat terpuruk hingga menyentuh level 5.317 sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih tinggi.
"IHSG kembali terpuruk dan nyaris menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) sebesar 5 persen," kata Gunawan.
Ia menjelaskan, sebanyak 661 saham mengalami koreksi, sementara hanya 78 emiten yang menguat dan 78 emiten lainnya ditutup stabil. Pelemahan IHSG tidak hanya dipengaruhi sentimen domestik, tetapi juga sejalan dengan koreksi yang terjadi pada mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Selain tekanan di pasar saham, data cadangan devisa Indonesia juga menjadi perhatian pelaku pasar. Cadangan devisa tercatat turun dari 146,2 miliar dolar AS pada April menjadi 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026.
"Penurunan sekitar 1,3 miliar dolar AS dalam satu bulan menunjukkan besarnya upaya yang dilakukan untuk meredam tekanan terhadap rupiah," ujarnya.
Gunawan menilai berkurangnya cadangan devisa tersebut antara lain digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus menghadapi tekanan dari berbagai sentimen global maupun domestik.
Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat kinerja rupiah. Pada perdagangan hari ini, mata uang Garuda ditutup melemah di level Rp18.170 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp18.190 per dolar AS.
"Rupiah nyaris menyentuh level psikologis Rp18.200 per dolar AS. Bahkan sangat mungkin sejumlah tempat penukaran uang sudah mematok kurs pada level tersebut," katanya.
Menurut Gunawan, perhatian pelaku pasar saat ini masih tertuju pada kondisi fiskal pemerintah dan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut.
Sementara itu, harga emas dunia juga mengalami pelemahan dan ditransaksikan di level 4.297 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,5 juta per gram.
Ia menjelaskan tekanan terhadap harga emas dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan inflasi global. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa bank sentral masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu dekat.
"Pasar saat ini mengantisipasi kemungkinan inflasi yang lebih tinggi, sehingga ekspektasi terhadap suku bunga tinggi kembali menguat dan menjadi sentimen negatif bagi harga emas," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....