Harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik, Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan

  • 14 Mei 2026 12:46 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menilai tren kenaikan harga kebutuhan pokok mulai terlihat pada pekan kedua Mei 2026, dan berpotensi terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan, di antaranya cabai, tomat, daging sapi, beras hingga berbagai jenis sayuran.

“Harga sejumlah kebutuhan pangan mulai bergerak naik, karena tekanan biaya produksi yang semakin besar,” ujar Gunawan, Kamis 14 Mei 2026.

Ia menjelaskan, harga cabai saat ini masih berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp33 ribu per kilogram dan dinilai masih sedikit di bawah harga keekonomian. Sementara harga beras medium yang berada di kisaran Rp13.800 hingga Rp14.300 per kilogram juga disebut masih relatif rendah jika dibandingkan dengan harga gabah kering giling yang sudah berada di level Rp8 ribuan per kilogram.

Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi pada harga daging sapi yang kini naik ke kisaran Rp140 ribu per kilogram. Kenaikan itu terjadi setelah harga sapi hidup naik dari kisaran Rp55 ribu hingga Rp57 ribu menjadi sekitar Rp64 ribu per kilogram.

Untuk komoditas tomat, harga saat ini mencapai Rp18 ribu per kilogram akibat menurunnya pasokan di pasaran. Gunawan menilai kenaikan harga kebutuhan pangan dipicu naiknya harga pokok produksi atau HPP yang dipengaruhi kenaikan biaya input pertanian dan peternakan.

Ia juga menyoroti fenomena shrinkflation atau pengurangan isi produk tanpa perubahan harga. Ini mulai banyak terjadi pada kebutuhan harian masyarakat.

“Masalahnya masyarakat sudah mulai mengeluhkan kenaikan harga. Padahal banyak komoditas sebenarnya belum mencerminkan harga keekonomian,” katanya.

Menurut Gunawan, jika harga tidak disesuaikan dengan biaya produksi, maka petani dan peternak akan mengalami kerugian yang dapat menimbulkan masalah pasokan di kemudian hari. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak hanya fokus pada bantuan sosial, tetapi juga memperkuat daya beli masyarakat melalui pemulihan sektor usaha produktif.

“Pemerintah perlu memperbaiki daya beli masyarakat, bukan hanya mengandalkan bansos. Intervensi harga tanpa dukungan insentif ke produsen juga sulit dilakukan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....