Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Tidak Perlu Diglorifikasi

  • 14 Mei 2026 12:39 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menilai capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 tidak perlu terlalu diglorifikasi, karena masih dibayangi sejumlah tantangan besar ke depan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi beberapa faktor sementara. Salah satunya low base effect akibat pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya berada di level 4,86 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama memang terlihat tinggi. Tetapi ada pengaruh basis pertumbuhan tahun sebelumnya yang rendah,” ujar Gunawan, Kamis, 14 Mei 2026.

Selain itu, belanja pemerintah yang tumbuh lebih dari 21 persen turut menjadi penopang utama pemulihan ekonomi pada awal tahun. Momentum Ramadan dan Idulfitri juga dinilai memberi dorongan besar terhadap konsumsi masyarakat, sehingga menopang aktivitas ekonomi nasional.

Namun di sisi lain, dampak perang di Timur Tengah baru mulai dirasakan pada April hingga saat ini. Terutama melalui pelemahan rupiah dan kenaikan harga plastik yang mulai menekan omzet usaha dan memicu kenaikan harga barang.

“Tekanan ekonomi akibat perang belum sepenuhnya tercermin pada data kuartal pertama. Tantangan justru lebih berat pada kuartal berikutnya,” ucapnya.

Gunawan menilai sejumlah risiko mulai membayangi ekonomi nasional. Seperti rupiah yang sudah menembus level 17.500 per dolar AS, defisit APBN yang melebar, kenaikan harga bahan baku hingga potensi lonjakan inflasi.

Ia juga menyoroti meningkatnya jumlah pekerja informal yang menurut data BPS naik menjadi 59,42 persen pada Februari 2026. Menurutnya, tekanan inflasi yang berpotensi meningkat dalam waktu dekat bisa memicu penurunan daya beli masyarakat, dan berdampak terhadap sektor tenaga kerja.

“Kalau harga terus naik, belanja masyarakat bisa menurun dan itu menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua,” katanya.

Gunawan menambahkan, sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku plastik juga berpotensi menghadapi gangguan keberlanjutan usaha akibat kenaikan biaya produksi. Karena itu, ia meminta pemerintah tetap realistis melihat kondisi ekonomi nasional, dan tidak hanya berfokus pada capaian pertumbuhan ekonomi kuartal pertama semata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....