Tembus 17.500 Per US Dolar, Kinerja Rupiah Terburuk Sepanjang Sejarah
- 12 Mei 2026 11:51 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz kembali menekan pasar keuangan global termasuk Indonesia.
Gunawan menyebut harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan di tengah aksi saling serang kedua negara. Minyak mentah saat ini diperdagangkan di kisaran 99 hingga 105 dolar AS per barel atau lebih tinggi dibanding perdagangan sebelumnya.
“Pernyataan Presiden AS terkait proposal gencatan senjata yang disebut dalam kondisi kritis membuat pasar semakin khawatir terhadap potensi gejolak ekonomi global,” ujar Gunawan, Selasa, 12 Mei 2026.
Kenaikan harga minyak turut menekan nilai tukar Rupiah yang kembali melemah ke level 17.505 per dolar AS. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terlemah Rupiah sepanjang sejarah.
Menurutnya, pelemahan Rupiah memberi tekanan besar terhadap pasar saham domestik. IHSG yang sempat dibuka menguat di level 6.946 bahkan sempat naik lebih dari satu persen, akhirnya berbalik melemah lebih dari satu persen selama sesi perdagangan berlangsung.
“Tekanan pada Rupiah menjadi faktor utama yang menyeret IHSG kembali ke zona merah,” ucapnya.
Selain sentimen geopolitik, pelaku pasar juga menunggu hasil rebalancing indeks MSCI yang dinilai akan sangat menentukan arah pasar keuangan Indonesia dalam waktu dekat.
Sementara, harga emas dunia justru mengalami penguatan ke level 4.730 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,67 juta per gram.
Gunawan mengatakan kenaikan harga emas dipicu meningkatnya aksi pembelian emas oleh sejumlah bank sentral dunia, termasuk Bank Sentral China atau PBoC.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....