Waspada Resesi, meski Ekonomi Sumut Nyaris Sentuh 5 Persen

  • 06 Mei 2026 06:36 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin, mengingatkan adanya potensi resesi teknikal di Sumatera Utara (Sumut). Meskipun pertumbuhan ekonomi daerah ini secara tahunan hampir menyentuh angka 5 persen pada kuartal pertama tahun 2026.

Gunawan menyebutkan, laju pertumbuhan ekonomi Sumut pada kuartal pertama 2026 secara kuartalan justru mengalami kontraksi sebesar 0,28 persen. Meskipun secara tahunan masih mampu tumbuh 4,98 persen.

"Capaian ini di luar ekspektasi, karena sebelumnya diperkirakan masih bisa tumbuh sekitar 0,17 persen,” ujarnya, Selasa 5 Mei 2026.

Menurutnya, tingginya aktivitas belanja masyarakat saat libur panjang Idulfitri sebelumnya, diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut tetap berada di zona positif. Namun realitanya, aktivitas ekonomi pada kuartal pertama tahun ini justru lebih rendah dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2025.

Gunawan menilai kondisi ini cukup mengejutkan. Hal ini mengingat pada akhir tahun 2025 lalu perekonomian Sumut juga sempat terdampak bencana banjir .

Ia menambahkan, potensi kontraksi ekonomi secara kuartalan juga masih membayangi pada kuartal kedua tahun 2026. Meski demikian, sektor industri pengolahan diperkirakan akan mulai pulih seiring faktor musiman peningkatan produktivitas komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit dan karet.

Di sisi lain, kinerja ekspor Sumut berpotensi stagnan. Bahkan pada kuartal pertama tahun ini, kinerja ekspor tercatat mengalami penurunan atau terkontraksi sebesar 2,76 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Gunawan menjelaskan, penurunan tersebut salah satunya dipicu oleh melemahnya ekspor produk turunan kelapa sawit jenis stearin. Salah satu eksportir bahkan mengalami penurunan ekspor lebih dari 50 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Meski demikian, pada kuartal kedua kinerja ekspor diperkirakan mulai terbantu oleh peningkatan ekspor produk turunan karet. Sementara ekspor produk turunan kelapa sawit diproyeksikan relatif stabil.

Gunawan juga mengingatkan adanya ancaman resesi teknikal, apabila perekonomian kembali mengalami kontraksi pada kuartal berikutnya.

“Jika terjadi kontraksi selama dua kuartal berturut-turut, maka Sumatera Utara berpotensi masuk ke dalam resesi teknikal. Apalagi saat ini tidak ada momentum belanja besar seperti Lebaran, ditambah tekanan inflasi serta dampak konflik geopolitik di Timur Tengah,” ucapnya.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level 17.410 per dolar AS juga dinilai dapat menambah tekanan terhadap aktivitas ekonomi di daerah.Ia menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama penggerak ekonomi Sumut. Karena itu, peran belanja pemerintah dinilai perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, sejumlah tekanan seperti kenaikan harga BBM dan LPG non-subsidi, kenaikan harga plastik yang berpotensi menekan sektor manufaktur, hingga meningkatnya biaya produksi akibat pelemahan rupiah dapat memicu perlambatan konsumsi masyarakat jika tidak diantisipasi dengan baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....