Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Sektor Pariwisata Sumut
- 04 Jun 2026 14:24 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Dr. Solahuddin Nasution, S.E., M.SP ( Pengamat pariwisata ) menjelaskan saat menjadi narasumber Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz, Kamis ( 4-Juni-2026 ) pagi, bahwa pelemahan nilai tukar rupiah sebenarnya memiliki dampak dua sisi (double-edged sword) bagi sektor pariwisata. Di satu sisi, situasi ini menjadi daya tarik yang sangat besar bagi wisatawan mancanegara (wisman) karena biaya berwisata di Indonesia, khususnya ke destinasi unggulan Sumatera Utara seperti Danau Toba, menjadi jauh lebih murah bagi mereka. Namun di sisi lain, industri pariwisata domestik menghadapi tantangan berat berupa pembengkakan biaya operasional (cost of production), terutama untuk fasilitas atau komponen pariwisata yang masih bergantung pada barang impor atau standar harga internasional. Beliau menekankan perlunya efisiensi dan inovasi kemasan paket wisata agar momentum "murahnya" rupiah ini bisa dikonversi menjadi peningkatan durasi tinggal (length of stay) dan belanja wisatawan asing secara optimal.
Sedangkan Drs. Ombang Siboro, M.Si (Ketua DPC ASPPI Samosir/Chairman Batuhoda Beach) yang juga menjadi narasumber Dialog Aspirasi Sumut, memberikan potret riil dari lini depan industri. Beliau menyampaikan bahwa di tingkat tapak atau pelaku destinasi di kawasan Danau Toba, pelemahan rupiah ini langsung berimbas pada pergeseran perilaku pasar. Terjadi penurunan daya beli dari wisatawan nusantara (wisatawan lokal) yang mulai menahan diri untuk melakukan perjalanan karena meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Sementara itu, untuk menangkap peluang dari kunjungan wisatawan asing, para pelaku usaha lokal masih harus berjuang meningkatkan standar pelayanan dan amenitas agar sesuai dengan ekspektasi pasar internasional. Menurutnya, insentif dari pemerintah dan kemudahan aksesibilitas menjadi kunci agar pelaku usaha di daerah tidak terjepit di antara naiknya biaya operasional harian dan menurunnya kunjungan pasar domestik.
Lain halnya dengan Dedi Arian Rizki Siregar ( Perwakilan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara ) memaparkan langkah strategis dan respons kebijakan dari sisi pemerintah daerah. Menghadapi dinamika ekonomi ini, Disbudparekraf Provsu berfokus pada penguatan promosi yang adaptif, dengan membidik pasar negara-negara tetangga yang mata uangnya lebih kuat, seperti Malaysia, Singapura, dan beberapa negara Asia lainnya, agar mereka terdorong untuk berlibur ke Sumatera Utara. Selain itu, pemerintah provinsi terus berupaya mendorong program gerakan bangga berwisata di Indonesia (BBWI) guna menjaga stabilitas pergerakan wisatawan domestik di tengah tekanan ekonomi. Pihaknya juga berkomitmen untuk terus memfasilitasi sertifikasi kompetensi SDM pariwisata dan penguatan desa-desa wisata agar kualitas destinasi di Sumatera Utara tetap kompetitif dan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal dalam situasi ekonomi apa pun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....