Waspadai Ledakan Inflasi pada Mei - Juni, Dampak Eskalasi Perang Iran – AS Meningkat

  • 26 Apr 2026 12:27 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, eskalasi perang antara Iran dengan AS atau Israel sampai sejauh ini masih belum menunjukan adanya kemungkinan deeskalasi konflik. Dampak rentetan yang dihasilkan akan sangat mempengaruhi kinerja ekonomi nasional, dengan potensi inflasi tinggi, yang akan disumbangkan dari ancaman kenaikan harga kebutuhan masyarakat.

Gunawan menyebut kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini, belum terlalu berdampak terhadap kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan masyarakat. Sejumlah harga makanan maupun minuman yang dihasilkan dari pabrikan yang menggunakan kemasan plastik, bebeapa diantaranya mengalami kenaikan, kebanyakan produsen masih menahan beban kenaikan harga plastik.

"Untuk kebutuhan pangan pokok seperti beras, sayur-sayuran (hortikultura), daging ayam, telur ayam hingga daging sapi maupun jenis bahan pangan harian lainnya, saat ini tengah mengalami kenaikan harga pokok produksi yang bebannya sangat dirasakan petani maupun peternak. Kenaikan harga pupuk, plastik, pestisida, herbisida, BBM dan LPG non subsidi, pelemahan Rupiah hingga peluang kenaikan biaya logistik mengancam kenaikan harga pangan kedepan," ujar Gunawan pada Minggu, 26 April 2026.

Perang Iran – AS maupun Israel ini dimulai di pekan terakhir Februari, dampak kenaikan harga plastik dan sejumlah kebutuhan lainnya dirasakan pertengahan maret hingga saat ini. Sehingga pembentukan harga pokok produksi alami kenaikan.

"Potensi kenaikan harga di bulan Mei hingga Juni berpeluang akan mulai dirasakan oleh masyarakat kita. Ditambah lagi dengan gangguan godzila el nino yang bisa menekan produksi tanaman atau bahkan memicu kegagalan panen," ucap Gunawan.

Menurut Gunawan, dampak yang ditimbulkan tidak akan terlalu buruk seandainya perang antara Iran dengan AS atau Israel berakhir damai. Spekulan sudah membaca situasi seperti sekarang ini yang bisa saja membuat mereka melakukan penimbunan atau memanipulasi pasar sehingga harga bisa saja bergejolak lebih cepat sebelum waktunya.

"Sebaiknya pemerintah melakukan upaya agar memitigasi kemungkinan ledakan harga dalam satu hingga dua bulan yang akan datang. Selain itu sebaiknya satgas pangan lebih intensif lagi dalam memantau distribusi pangan," kata Gunawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....