Rupiah Terpuruk, Eskalasi Konflik Iran–AS Picu Ancaman Krisis Ekonomi
- 23 Apr 2026 18:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.300 per dolar AS berpotensi memicu tekanan baru terhadap perekonomian nasional, terutama pada sektor pangan. Menurut Gunawan, pelemahan rupiah dipicu oleh memburuknya tensi geopolitik di Timur Tengah, seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Kondisi tersebut diperburuk dengan kabar pencegatan kapal tanker milik Iran oleh pihak AS di perairan Asia. Hal ini semakin meningkatkan kekhawatiran pasar global.
“Sentimen negatif dari konflik geopolitik membuat rupiah terpuruk hingga menyentuh level Rp17.300 per dolar AS,” ujar Gunawan, Kamis 23 April 2026.
Gunawan menjelaskan pelemahan rupiah dapat memicu komplikasi ekonomi lain. Terutama terhadap ketersediaan dan harga bahan pangan yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ia menyebut sejumlah komoditas yang rentan terdampak antara lain kedelai, bungkil kedelai, sapi bakalan, ayam indukan atau grand parent stock. Kemudian, pupuk, bahan baku pakan ternak, pestisida, herbisida hingga energi seperti BBM dan LPG.
Selain itu, meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah juga berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur perdagangan penting dunia.
“Kondisi ini bukan hanya memicu kenaikan harga, tetapi juga berpotensi menciptakan kelangkaan bahan baku maupun barang kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Gunawan menilai dalam situasi seperti ini pemerintah perlu memperkuat kebijakan fiskal yang fokus pada stabilitas pasokan dan harga pangan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga ketersediaan stok bahan pangan, serta memastikan distribusi tetap berjalan stabil.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat diversifikasi pangan, serta memberikan dukungan kepada petani. Hal ini agar tetap mampu berproduksi di tengah kenaikan harga berbagai input pertanian.
“Fiskal harus diberikan ruang lebih besar untuk beradaptasi, baik melalui subsidi bagi konsumen maupun dukungan kepada sektor pertanian agar harga kebutuhan dasar tetap terjangkau,” ujarnya.
Menurutnya, ancaman kelangkaan barang memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan sekadar kenaikan harga. Oleh karena itu, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini agar perekonomian domestik tidak terlalu terdampak oleh dinamika krisis global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....