Negosiasi Iran–AS Gagal, Pasar Saham Terkoreksi, Rupiah Tertekan
- 13 Apr 2026 09:56 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menilai meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat menjadi pemicu utama tekanan di pasar keuangan global.
Menurutnya, kenaikan harga minyak mentah dunia yang kini berada di atas 100 dolar AS per barel telah memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat.
“Sentimen perang masih menjadi pemicu utama koreksi yang terjadi pada kinerja pasar keuangan secara keseluruhan,” ujar Gunawan, Senin, 13 April 2026.
Ia menjelaskan, memburuknya tensi geopolitik di Timur Tengah membuka peluang konflik berlangsung lebih lama dan berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.
“Memburuknya tensi geopolitik di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran bahwa perang bisa saja berlangsung dalam waktu yang lebih panjang,” ucapnya.
Selain itu, rencana Amerika Serikat untuk memblokade Selat Hormuz dinilai akan semakin mendorong kenaikan harga energi. “Langkah tersebut berpeluang memicu kenaikan harga minyak, atau setidaknya membuat harga minyak mentah dunia bertahan di atas 100 dolar AS per barel,” katanya.
Gunawan menyebut, di dalam negeri, tekanan juga terlihat pada IHSG yang dibuka melemah ke level 7.410 dan berpotensi menguji support di kisaran 7.300. Nilai tukar rupiah turut tertekan ke level Rp17.135 per dolar AS.
Sementara itu, harga emas dunia memang melemah, namun tetap tinggi di dalam negeri akibat pelemahan rupiah, yakni di kisaran Rp2,61 juta per gram. Kondisi ini diperburuk oleh ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve yang masih berpotensi bersikap hawkish.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....