Rupiah Menguat, Harga Emas Tembus USD 4.700
- 02 Apr 2026 21:24 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan pasar keuangan global dan domestik mengalami tekanan pada Kamis, 2 April 2026. Menurutnya hal ini disebabkan meredupnya harapan perdamaian konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat.
“Harapan perdamaian pada perang Iran–AS meredup pada perdagangan hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global apabila konflik terus berlanjut. Meskipun Amerika Serikat sebelumnya memberi sinyal akan mengakhiri perang dalam dua hingga tiga pekan mendatang.
Di sisi lain, Iran membantah klaim tersebut, sehingga meningkatkan ketidakpastian di pasar. Situasi ini langsung direspons negatif oleh pelaku pasar global.
Bursa saham di Asia mayoritas bergerak di zona merah, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup melemah cukup dalam.
“IHSG ditutup melemah 2,19 persen di level 7.026,782, dan sepanjang sesi perdagangan konsisten berada di zona merah,” ucapnya.
Ia menambahkan, IHSG sempat menyentuh level terendah di 7.019. Jika tekanan berlanjut, indeks berpotensi menguji level psikologis di 7.000 pada perdagangan berikutnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan signifikan. Rupiah ditutup di level 16.990 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh kisaran 17.000 selama sesi perdagangan. Dari sisi komoditas, harga emas dunia juga mengalami penurunan.
“Harga emas turun ke level 4.624 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,53 juta per gram,” ujar Gunawan.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS yang tercermin dari naiknya indeks dolar ke level 100,11,. Selain itu juga kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di atas 4,3 persen.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia di kisaran 107 hingga 108 dolar AS per barel turut memperburuk sentimen pasar dan menekan sektor keuangan. Dengan berbagai tekanan tersebut, ia menilai pergerakan pasar masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik dalam waktu dekat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....