Tradisi Penukaran Uang Baru Menjelang Lebaran

  • 05 Mar 2026 11:35 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Tradisi penukaran uang baru menjelang lebaran sudah menjadi ciri khas masyarakat Sumut, terutama ketika akan membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) atau uang lebaran kepada anak-anak dengan tujuan untuk memeriahkan momen kemenangan bersama setelah menjalankan ibadah puasa. Namun, persoalan publik mulai muncul ketika kebutuhan yang tinggi dimanfaatkan untuk mencari keuntungan di luar mekanisme resmi. Hal ini dikatakan Herdensi Adnin, S.Sos., M.SP ( Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Sumatra Utara ) saat menjadi narsumber dalam acara Dialog Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94.3 MHz, Kamis (5/3/2026) pagi.

Lebih lanjut Herdendi mengatakan bahwa praktik seperti ini menjadi perhatian khusus, terutama bagi dunia perbankan dan juga instansi yang mengawasi pelayanan publik. Masalah utama yang sering muncul adalah kuota terbatas di layanan resmi, yang menyebabkan antrian panjang bahkan sebelum kantor bank buka. Pertanyaan yang sering kami terima adalah mengenai tata administrasi pelayanan – sejauh mana pihak perbankan dapat mengumpulkan data kebutuhan masyarakat akan uang baru sebagai patokan dalam penyediaannya, sehingga dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kuota atau memperluas lokasi pelayanan.

“ Di Kota Medan sendiri, fenomena serupa juga terjadi. Belakangan ini, sering muncul praktik jual beli uang baru dengan harga lebih mahal dari nominal aslinya; contohnya, uang dengan total nominal Rp500 ribu dijual dengan harga Rp600 ribu. Hal ini terjadi akibat permintaan masyarakat yang tinggi untuk memberikan uang baru kepada keluarga dan kerabat, sementara layanan penukaran resmi di bank seringkali sulit diakses karena kuota sudah penuh atau keterbatasan lokasi pelayanan, “ ungkap Herdensi.

Diakhir dialog Herdensi memberikan informasi mengenai Bank Indonesia dan beberapa bank umum di Medan telah menyediakan layanan penukaran uang baru melalui berbagai kanal, seperti kas keliling yang menjangkau beberapa kecamatan dan kantor cabang tertentu. Namun, untuk mendapatkan layanan ini, masyarakat diwajibkan untuk melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui aplikasi resmi bernama Pintar BI, yang dapat diunduh secara gratis melalui toko aplikasi pada perangkat pintar masing-masing. Hal ini bertujuan untuk mengatur alur antrian dan memastikan setiap warga yang membutuhkan mendapatkan kesempatan yang sama.

Sedangkan Dr. Lodiana Ayu, M.Si ( Psikolog & Dekan Fakultas Psikologi Universitas Potensi Utama Medan ) yang juga menjadi narasumber dalam Dialog Aspirasi Sumut memberikan pandangannya tentang penukaran uang baru saat menjelang lebaran dari perspektif psikologi, perilaku masyarakat yang ingin memberikan uang baru saat lebaran erat kaitannya dengan perasaan kebahagiaan dan kepuasan batin. Masyarakat berusaha untuk membahagiakan orang lain, terutama anak-anak atau keluarga yang lebih muda, dengan memberikan uang yang dalam kondisi baru dan rapi.

“ Perasaan kebahagiaan ini muncul karena tindakan memberikan uang baru dianggap sebagai bentuk ekspresi cinta, perhatian, dan rasa syukur atas berkah yang telah diterima sepanjang tahun. Tradisi ini juga telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Sumut, sehingga menjadi bagian dari identitas budaya yang menunjukkan nilai-nilai gotong royong dan rasa kekeluargaan. Nilai nominal uang yang diberikan tidak menjadi hal utama – bahkan uang dengan nilai kecil seperti Rp2 ribu tetap dianggap berharga karena makna di baliknya, yaitu rasa peduli dan kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan, “ ujar Lodiana.

Diakhir dialog Lodiana memberikan kesimpulan lain itu, dari sisi psikologi sosial, berbagi uang baru juga dapat menjadi bentuk afirmasi sosial bahwa kita adalah bagian dari komunitas yang sama dan peduli satu sama lain. Hal ini memperkuat ikatan sosial antarindividu dan antar keluarga di lingkungan masyarakat Sumut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....