IHSG Melemah Ditengah Penguatan Rupiah, Harga Emas Bergerak Stagnan

  • 26 Feb 2026 21:05 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menekan psikologis pelaku pasar global. Rencana perundingan lanjutan kedua negara dinilai belum cukup kuat meredakan kekhawatiran, terutama di tengah isu penambahan pasukan AS di kawasan Timur Tengah.

“Situasi geopolitik yang belum memiliki kepastian membuat investor cenderung mengambil sikap hati-hati dan menahan transaksi berisiko tinggi,” ujar Guwan Benjamin, Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak langsung pada pergerakan pasar saham Asia yang cenderung bergerak sideways dengan kecenderungan melemah.

“Minimnya sentimen positif membuat pelaku pasar lebih memilih wait and see sambil menunggu perkembangan geopolitik yang lebih jelas,” katanya.

Gunawan menyebut di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,04 persen ke level 8.235,36. Selama sesi perdagangan, IHSG bergerak di rentang 8.139 hingga 8.358. Sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BUMI, BBCA, BBRI, ANTM, ADRO, hingga BBNI tercatat menjadi penekan utama indeks.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah penguatan nilai tukar Rupiah yang ditutup menguat ke level Rp16.750 per dolar AS. Penguatan Rupiah banyak dipengaruhi oleh tekanan pada indeks dolar AS yang melemah pada perdagangan hari ini.

Sementara itu, harga emas dunia terpantau bergerak relatif stabil di kisaran 5.182 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,8 juta per gram. Menurut Guwan, pergerakan emas yang cenderung stagnan mencerminkan sikap kehati-hatian pelaku pasar.

“Emas masih bergerak sideways karena pasar menanti hasil pertemuan Iran dan AS. Pergerakan harga baru akan lebih atraktif setelah ada kejelasan dari perundingan tersebut,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....