Geopolitik Memanas, IHSG dan Rupiah Tertekan, Emas di $5.000

  • 20 Feb 2026 11:50 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin menilai rilis data klaim pengangguran awal (initial jobless claims) Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan tidak mampu mendorong penguatan pasar saham Asia. Data menunjukkan klaim pengangguran berada di level 206 ribu, lebih rendah dari proyeksi 223 ribu.

Gunawan menjelaskan, sentimen positif dari data tenaga kerja AS tertutup oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Ancaman penggunaan kekuatan militer memperburuk hubungan kedua negara dan memicu kekhawatiran pasar global.

“Memburuknya tensi geopolitik telah mendorong kenaikan harga minyak sekaligus menekan kinerja pasar saham global,” ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.

Menurutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat di awal perdagangan pada level 8.300, namun kemudian berbalik melemah mengikuti tekanan bursa Asia. IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 8.230 hingga 8.330 sepanjang perdagangan.

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dan diperdagangkan melemah di kisaran Rp16.885 per dolar AS. Kenaikan harga minyak mentah dunia turut membebani mata uang domestik, dengan minyak jenis WTI tercatat naik ke level 66,7 dolar AS per barel.

Selain itu, penguatan dolar AS yang tercermin dari indeks dolar di level 97,96 juga menambah tekanan terhadap rupiah.

“Kombinasi kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS membuat rupiah cenderung melemah,” katanya.

Sementara itu, Gunawan menyebut harga emas dunia bergerak konsolidatif di sekitar level psikologis 5.000 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,7 juta per gram. Logam mulia tersebut masih diuntungkan oleh meningkatnya risiko geopolitik, meskipun tetap dibayangi kebijakan suku bunga Federal Reserve yang cenderung mempertahankan tingkat bunga acuannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....