Indonesia Masih Jadi Konsumen Game

  • 13 Feb 2026 17:41 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Nilai transaksi game di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sejumlah laporan industri pada 2026 mencatat pasar game nasional diperkirakan mencapai sekitar 2,5 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp40 triliun per tahun.

Nilai tersebut berasal dari pembelian game, top-up item digital, hingga berbagai transaksi dalam aplikasi, yang mayoritas berasal dari game berbasis mobile. Angka ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi digital yang berkembang di tengah masyarakat.

Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai tingginya transaksi ini memang mencerminkan geliat ekonomi digital di Tanah Air. Namun, menurutnya, posisi Indonesia dalam industri game global masih didominasi sebagai konsumen.

Dalam wawancara melalui telepon pada Kamis, 10 Februari 2026, Gunawan mengatakan meski transaksi game menunjukkan pertumbuhan ekonomi digital, perlu dicermati siapa yang sebenarnya menikmati perputaran uang tersebut. Ia menilai masyarakat Indonesia masih berada pada posisi pengguna akhir dan belum banyak terlibat dalam rantai produksi maupun distribusi industri game.

“Pastinya iya, namun siapa yang menikmati itu? Kalau kita sebagai pengguna game, ya kita hanya sebatas konsumen,” ujar Gunawan. “Kita bukan berada di rantai pasok produksinya, bukan di rantai pasok perdagangannya. Nah ini yang berbahaya sebenarnya.”

Sementara itu, seorang pemain game, Sahat, mengaku rutin mengeluarkan uang untuk kebutuhan dalam permainan, terutama untuk membeli battle pass dan item tambahan pada game bergenre RPG maupun mobile. Ia menyebut pengeluaran tersebut sudah menjadi bagian dari hiburan bulanan.

“Biasanya kalau saya mengeluarkan uang itu untuk beli battle pass di game RPG sama game mobile,” kata Sahat. “Dalam satu bulan kurang lebih 100 sampai 300 ribu rupiah. Sekitar 20 persen untuk battle pass, sisanya untuk kosmetik atau top up performa.”

Sahat mengatakan pengeluaran rutin untuk game tidak terlalu mengganggu kebutuhan sehari-hari karena sudah disisihkan dari anggaran konsumsi. Namun, pada momen tertentu seperti event atau promo khusus, pengeluarannya bisa meningkat dari biasanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....