Pemerintah Naikkan Harga Pertamax, IHSG Sempat Zona Merah

  • 10 Jun 2026 10:03 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pasar keuangan domestik masih dibayangi sentimen negatif global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurutnya, mayoritas bursa saham Asia ditransaksikan melemah pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia.

"IHSG pada sesi pembukaan perdagangan sempat melemah ke level 5.744 sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa saham Asia," kata Gunawan.

Meski demikian, IHSG berangsur pulih dan kembali bergerak di zona hijau. Ia menilai pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen domestik maupun global yang berpotensi memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.

Salah satu agenda yang dinantikan investor adalah rilis Indeks Kepercayaan Konsumen yang dapat memberikan gambaran mengenai prospek belanja masyarakat Indonesia ke depan. Namun, menurut Gunawan, data tersebut diperkirakan tidak akan menjadi penggerak utama pasar.

"Perhatian pasar saat ini lebih tertuju pada kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax mulai hari ini," ujarnya.

Gunawan menilai kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong laju inflasi karena berdampak pada biaya transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga menunjukkan upaya pemerintah menyesuaikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kenaikan harga Pertamax dapat dipandang sebagai langkah normalisasi fiskal yang dilakukan pemerintah di tengah tekanan ekonomi global," katanya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan dan ditransaksikan di level Rp17.910 per dolar AS. Rupiah mulai menjauhi level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan pada periode sebelumnya.

Menurut Gunawan, penguatan rupiah sejauh ini menjadi sentimen positif yang membantu menopang pergerakan IHSG.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa risiko terhadap rupiah masih cukup besar. Salah satunya adalah potensi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite yang dapat memengaruhi konsumsi BBM domestik, ditambah ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.

Di pasar komoditas, harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level 4.183 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,42 juta per gram.

Gunawan menjelaskan tekanan terhadap emas terjadi karena pasar memperkirakan sejumlah bank sentral dunia masih berpeluang melanjutkan kebijakan suku bunga tinggi guna mengendalikan inflasi.

"Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral membuat minat terhadap emas untuk sementara waktu mengalami penurunan," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....