Lonjakan Permintaan Picu Emas Dijual Inden

  • 12 Feb 2026 14:06 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan saat ini banyak toko emas menjual produknya dengan sistem inden akibat tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan fisik di pasar.

Dari hasil pemantauan langsung di lapangan, ia menemukan sejumlah butik emas belum dapat menyerahkan barang secara langsung kepada pembeli.

“Banyak toko menjual emas secara inden. Artinya barang baru dikirim setelah pemesanan dilakukan, dan harga sudah disepakati di awal transaksi hingga serah terima,” ujar Gunawan, Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan keluhan masyarakat yang menyebut stok emas di sejumlah butik dalam kondisi terbatas.

Ia menjelaskan, lonjakan permintaan (demand) berpotensi memicu kelangkaan jika produksi belum mampu mengejar kebutuhan pasar. “Demand yang tinggi bisa saja memicu gap antara kecepatan produksi dengan total permintaan. Ini yang membuat stok di lapangan terasa terbatas,” ucapnya.

Terkait dugaan penimbunan oleh oknum dalam rantai distribusi, Gunawan menilai hal itu mungkin saja terjadi, namun sudah masuk ranah aparat penegak hukum.

“Salah satu lembaga yang bisa menelusuri dugaan tersebut adalah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Tapi secara kajian ekonomis, pedagang yang menimbun punya risiko besar jika harga emas turun,” katanya.

Ia menambahkan, harga emas yang sangat volatil belakangan ini membuat aksi menimbun berisiko tinggi. Modal pedagang bisa terbenam jika harga terkoreksi dan mereka harus menunggu harga kembali naik untuk menjual.

“Menimbun emas saat harga sudah sangat mahal punya risiko rugi cukup besar. Kalau ada pedagang mengambil langkah itu, maka siap-siap tokonya menjadi kurang kompetitif,” ucap Gunawan.

Menurut Gunawan, strategi penimbunan akan memaksa pedagang membuat selisih harga jual dan beli (spread) lebih lebar untuk menutup risiko kerugian. Hal ini justru dapat mengurangi daya saing usaha. “Sejatinya toko yang sehat akan mengupayakan barang yang dibeli bisa langsung dijual ke masyarakat. Di tengah ketidakpastian, menimbun emas justru bisa menjadi bumerang bagi bisnis,” ujarnya.

Ia juga membuka kemungkinan bahwa penimbunan justru terjadi di level konsumen, bukan pedagang. Bahkan tidak menutup kemungkinan pedagang berubah peran menjadi pembeli untuk kepentingan investasi pribadi.

Sementara itu, jika keterbatasan pasokan fisik membuat masyarakat beralih ke pembelian emas digital atau daring, Gunawan mengingatkan pentingnya memastikan kredibilitas platform penjual.

“Pastikan toko online memiliki rekam jejak yang baik, tidak pernah tersandung kasus gagal serah terima, serta memiliki reputasi yang terjamin,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....