IHSG dan Rupiah Menguat Tipis Pagi Ini
- 11 Feb 2026 10:42 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan-Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai pasar keuangan mulai kembali fokus pada data ekonomi setelah tensi geopolitik global mereda.
“Data penjualan ritel AS tak ubahnya dengan data penjualan ritel tanah air, tumbuh melambat dan direspon dingin oleh pasar saham. Mayoritas bursa saham di Asia bergerak mixed pada perdagangan hari ini,” ujar Gunawan, Rabu, 11 Februari 2026.
Ia menjelaskan, IHSG dibuka menguat terbatas di level 8.152 pada sesi perdagangan pagi. Dengan pergerakan pasar yang cenderung sideways, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 8.100 hingga 8.200 sepanjang hari ini.
“Dengan kinerja pasar keuangan yang masih bergerak sideways di sesi perdagangan pagi, IHSG berpeluang untuk bergerak dalam rentang 8.100 hingga 8.200 pada hari ini,” ujarnya.
Dari kawasan Asia, China melaporkan laju inflasi bulanan maupun tahunan (year-on-year/y-o-y) sebesar 0,2 persen, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Data tersebut membuat pasar saham Asia cenderung bergerak mendatar.
Menurut Gunawan, perhatian investor selanjutnya tertuju pada agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat, khususnya data tingkat pengangguran Januari 2026 yang diproyeksikan tetap di level 4,4 persen.
“Salah satu yang dinanti adalah data tingkat pengangguran yang memungkinkan The Fed mempertimbangkan pemangkasan bunga acuannya. Sejauh ini diproyeksikan masih sebesar 4,4 persen, sehingga memberikan ruang ekspektasi bagi penurunan bunga acuan dan bisa menjadi pendorong penguatan rupiah,” katanya.
Di pasar valuta asing, rupiah pada perdagangan pagi ditransaksikan menguat ke level Rp16.760 per dolar AS. Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.730 hingga Rp16.780 selama sesi perdagangan hari ini.
Sementara itu, harga emas dunia relatif stabil di level 5.037 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,7 juta per gram. Minimnya sentimen geopolitik membuat harga emas bergerak terbatas.
“Belum ada perkembangan baru yang signifikan dari dinamika politik global. Pelaku pasar sementara mengalihkan fokus pada data-data ekonomi, sembari mengambil sikap wait and see hingga ada perkembangan baru setelah sempat muncul kekhawatiran perang antara Iran dengan AS,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....