IHSG dan Rupiah Melemah, Emas Dunia Berbalik
- 06 Feb 2026 18:22 WIB
- Medan
Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai pelemahan pasar keuangan domestik terjadi seiring meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai belum menunjukkan kepastian arah.
“Imbauan kedutaan virtual AS di Iran agar warganya meninggalkan negara tersebut menjadi sinyal negatif bagi pasar. Ini memunculkan kekhawatiran bahwa perundingan tidak berjalan mulus dan risiko konflik terbuka masih membayangi,” ujar Gunawan, Jumat, 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sentimen geopolitik tersebut berdampak langsung pada kinerja pasar saham di dalam negeri. Sepanjang sesi perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah dan ditutup melemah 2,08 persen ke level 7.935,26. Selama perdagangan berlangsung, IHSG sempat bergerak dalam rentang 7.861 hingga 8.025, seiring tekanan yang juga terjadi di mayoritas bursa saham Asia.
Tekanan juga dialami nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan melemah hingga level Rp16.865 per dolar AS. Menurut Gunawan, pelemahan tersebut diperparah oleh sentimen domestik, khususnya keputusan lembaga pemeringkat internasional Moody’s yang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif.
“Penurunan outlook oleh Moody’s membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap defensif. Rupiah dan IHSG menjadi terbebani karena investor memilih menunggu kepastian arah kebijakan dan perkembangan geopolitik global,” ucapnya.
Di sisi lain, harga emas dunia justru bergerak berlawanan arah dengan pasar saham dan mata uang. Emas tercatat menguat ke kisaran 4.861 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram. Penguatan emas mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.
Gunawan menambahkan, kenaikan harga emas juga dipicu oleh memburuknya data ketersediaan lapangan pekerjaan di Amerika Serikat yang kembali memunculkan spekulasi pemangkasan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve.
“Ketidakpastian geopolitik dan sinyal perlambatan ekonomi AS menjadi kombinasi yang mendorong investor kembali masuk ke aset safe haven seperti emas,” ujar gunawan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....