Outlook Negatif Tekan Rupiah, IHSG dan Harga Emas

  • 06 Feb 2026 10:27 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai koreksi harga emas dunia saat ini dipicu oleh meredanya tensi geopolitik global. Khususnya setelah Iran dan Amerika Serikat sepakat untuk melakukan perundingan di Oman.

“Harga emas dunia saat ini bergerak di kisaran US$4.718 per ons troy atau setara sekitar Rp2,6 juta per gram. Kesepakatan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi sentimen negatif bagi emas yang selama ini berfungsi sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global,” ujar Gunawan, Jumat 6 Februari 2026.

Ia menjelaskan, meredanya tensi geopolitik membuat daya tarik emas cenderung menurun, meskipun pelaku pasar masih menunggu hasil konkret dari pertemuan kedua negara tersebut. Tekanan pada harga emas berpotensi berlanjut apabila perundingan menghasilkan kesepakatan dan risiko konflik dapat dihindari. 

Namun, kondisi dapat berubah apabila negosiasi gagal, sehingga untuk sementara pelaku pasar komoditas cenderung bersikap wait and see. Selain faktor geopolitik, harga emas juga sempat tertekan oleh sentimen pencalonan Gubernur The Federal Reserve oleh Presiden Amerika Serikat.

Sementara itu, Gunawan menyebutkan nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini terpantau melemah ke level Rp16.880 per dolar AS, seiring penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik ke level 97,93.

“Penguatan dolar AS masih menjadi tekanan utama bagi rupiah. Pada perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.800 hingga Rp16.930 per dolar AS,” katanya.

Dari dalam negeri, sentimen negatif kembali membayangi pasar keuangan setelah Moody’s menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meskipun peringkat kredit Indonesia masih dipertahankan.

“Penurunan outlook oleh Moody’s turut membebani kinerja rupiah dan IHSG. Meskipun secara fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dengan pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen berdasarkan data BPS,” ucapnya.

Ia juga menyoroti kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada sesi perdagangan pagi dibuka melemah di level 7.945 dan mencatatkan koreksi lebih dari 2 persen.

“Tekanan IHSG saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, isu geopolitik, serta kebijakan lembaga pemeringkat dan penyesuaian indeks oleh MSCI sebelumnya,” kata Gunawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....