IHSG Menguat, Rupiah Tertekan, Emas Terkoreksi
- 30 Jan 2026 19:00 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menyebut IHSG ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, setelah Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyatakan mundur pada pagi hari. Menurutnya, langkah tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak pasar modal dalam dua hari terakhir.
"IHSG sempat turun hingga menyentuh level 8.167 sesaat setelah pembukaan perdagangan. Namun indeks kemudian berbalik arah dan sempat menyentuh level tertingginya di 8.408," ujar Gunawan.
Gunawan menilai, pada akhir perdagangan IHSG ditutup menguat 1,18 persen di level 8.329,606. Ia menyebut salah satu sisi positif dari pengunduran diri tersebut adalah adanya arahan Presiden untuk meningkatkan alokasi dana fund manager, seperti dana pensiun dan asuransi, hingga 20 persen di pasar saham.
“Arahan tersebut menunjukkan pemerintah memahami risiko pasar, dan menyadari bahwa penguatan ekonomi juga harus didorong dari sisi pasar modal, tidak hanya mengandalkan sektor riil,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tekanan yang terjadi di pasar modal berpotensi memicu capital outflow jika tidak dikelola dengan baik. Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat menekan neraca pembayaran Indonesia dan berdampak pada nilai tukar rupiah.
Gunawan mengingatkan pelemahan rupiah berisiko menimbulkan dampak lanjutan terhadap sektor riil, termasuk penyerapan tenaga kerja. Menurutnya, meski dampak pasar keuangan tidak selalu terasa secara instan, tekanan yang dibiarkan dapat terakumulasi dan memicu persoalan ekonomi yang lebih kompleks.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini ditransaksikan melemah di kisaran Rp16.780 per dolar AS. Sejumlah sentimen global menunjukkan dolar AS masih berada dalam posisi kuat untuk menekan mata uang negara berkembang.
Selain itu, Gunawan menjelaskan harga emas dunia pada perdagangan hari ini terpantau melemah dan bertahan di kisaran 5.100 dolar AS per ons troy. Koreksi tersebut terjadi setelah emas sebelumnya melonjak tajam hingga sempat menembus level psikologis 5.500 dolar AS per ons troy.
“Pelemahan harga emas saat ini lebih dipicu oleh aksi ambil untung investor, namun secara fundamental emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat,” katanya.
Ia menilai, meningkatnya ketidakpastian geopolitik global masih menjadi katalis positif bagi pergerakan harga emas ke depan. Selain itu, arah kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) yang diproyeksikan menurun juga berpotensi menjadi pendorong penguatan emas.
Gunawan menambahkan, penurunan suku bunga tersebut tidak semata-mata dipicu oleh data ekonomi, tetapi lebih karena tekanan politik dari Presiden AS terhadap bank sentralnya juga menjadi faktor yang semakin diperhitungkan pasar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....