IHSG Berbalik Melemah, Rupiah Dan Emas Terkoreksi
- 30 Jan 2026 12:31 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - IHSG kembali melemah setelah sempat dibuka menguat pada perdagangan pagi ini, Jumat 30 Januari 2026. Menurut Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, tekanan pasar dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global menyusul sikap Presiden Amerika Serikat yang kian serius untuk mengganti Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) dalam waktu dekat.
“Langkah Presiden AS tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang dolar AS. Mengingat kebijakan The Fed saat ini belum sepenuhnya sejalan dengan keinginan Presiden yang mendorong adanya pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat,” ujar Gunawan.
Ia menjelaskan, pernyataan Presiden AS tersebut pada dasarnya menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Asia. Pasar semakin meyakini bahwa tekanan terhadap The Fed dapat membuka peluang kepastian penurunan suku bunga acuan ke depan. Namun demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah.
“Meski sentimen global cenderung positif, rupiah masih mengalami pelemahan pada sesi perdagangan pagi,” katanya.
Rupiah terpantau melemah di kisaran level Rp16.795 per dolar AS, sementara indeks dolar AS (USD Index) bergerak menguat terbatas di level 96,61. Di sisi pasar saham, IHSG sempat dibuka menguat di level 8.308, namun berbalik arah dan ditransaksikan melemah di kisaran 8.220.
Gunawan memproyeksikan IHSG masih akan berada dalam tekanan hingga akhir pekan, dengan rentang pergerakan yang cukup lebar di level 8.150 hingga 8.310. Di sisi lain, harga emas dunia kembali mengalami koreksi teknikal setelah mencatatkan penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya.
Saat ini, emas dunia ditransaksikan di kisaran level 5.152 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,8 juta per gram. Koreksi harga emas saat ini masih bersifat teknikal dan relatif wajar.
"Ke depan, emas tetap memiliki peluang untuk kembali menguat. Terutama didorong oleh potensi penurunan suku bunga acuan The Fed serta meningkatnya risiko geopolitik, termasuk konflik dengan Iran yang kian mendekat,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....