IHSG Terpuruk Imbas Kebijakan MSCI, Emas Tembus US$5.100

  • 28 Jan 2026 10:35 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, mengatakan tekanan pasar keuangan global masih berlanjut pada perdagangan Rabu 28 Januari 2026. Hal tersebut dipicu oleh penurunan indeks kepercayaan konsumen Amerika Serikat yang tercatat di level 84,5 pada Januari, turun dari posisi sebelumnya 94,2 dan berada di bawah ekspektasi pasar di kisaran 90.

“Pelemahan kepercayaan konsumen AS membuat pelaku pasar semakin berhati-hati. Terlebih fokus pasar saat ini juga tertuju pada pidato Presiden AS serta perkembangan kesepakatan dagang India dengan Uni Eropa,” ujar Gunawan Benjamin, Rabu 28 Januari 2026.

Di pasar domestik, Gunawan menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah tajam sejak sesi awal perdagangan dan sempat terpuruk hingga ke level 8.393. Pelemahan tersebut dipicu oleh keputusan pengelola indeks global MSCI yang membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia.

“Kebijakan MSCI ini diambil menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham, serta aspek investabilitas pasar saham Indonesia,” kata Gunawan.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah justru bergerak menguat. Rupiah pagi ini ditransaksikan di level Rp16.730 per dolar AS, seiring terpuruknya indeks dolar AS ke kisaran level 95.

“Pelemahan USD indeks menjadi sentimen positif bagi rupiah. Meskipun tekanan di pasar saham domestik masih cukup besar,” ujarnya.

Gunawan memperkirakan di tengah minimnya sentimen positif, IHSG masih akan berjibaku di zona merah sepanjang perdagangan hari ini. Sementara itu, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.650 hingga Rp16.770 per dolar AS.

Sementara itu, harga emas dunia kembali mencatatkan penguatan signifikan. Harga emas ditransaksikan di kisaran US$5.166 per ons troy dan bahkan sempat menyentuh level US$5.185 per ons troy di pasar Amerika Serikat. Harga emas saat ini setara dengan sekitar Rp2,8 juta per gram.

“Penguatan harga emas dipicu meningkatnya tensi geopolitik serta kembali munculnya ancaman kenaikan tarif dari Amerika Serikat terhadap Korea Selatan, yang memperburuk ekspektasi ekonomi global,” kata Gunawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....