Ketidakpastian The Fed dan Geopolitik Dorong Emas Meroket

  • 23 Jan 2026 10:14 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan penguatan harga emas saat ini didorong oleh kombinasi faktor ketidakpastian kebijakan moneter AS dan meningkatnya tensi geopolitik global.

“Ketidakpastian kepemimpinan The Fed serta situasi geopolitik yang belum mereda, menjadi katalis utama penguatan harga emas. Kondisi ini mendorong investor memilih emas sebagai aset lindung nilai,” kata Gunawan, di Medan, Jumat 23 Januari 2026.

Gunawan menjelaskan, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang sebelumnya tertunda kini telah dirilis dan menunjukkan inflasi inti masih mengalami kenaikan pada November. Kondisi tersebut berpotensi mengikis ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed dalam waktu dekat.

Meski demikian, respons pasar keuangan AS terpantau relatif stabil. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bergerak datar di kisaran 4,25 persen, sementara indeks dolar AS (USD Index) juga stabil di level 98,3.

“Stabilnya imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar menunjukkan data ekonomi tersebut belum memberikan tekanan berarti ke pasar global, termasuk terhadap nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Di dalam negeri, rupiah justru terpantau menguat di kisaran Rp16.845 per dolar AS. Menurut Gunawan, pelaku pasar saat ini masih menunggu sinyal lanjutan terkait arah kebijakan suku bunga The Fed, apakah akan dipertahankan atau justru diturunkan dalam waktu dekat.

Sementara itu, kinerja pasar saham domestik menunjukkan pergerakan yang berlawanan dengan emas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat ke level 9.031 pada pembukaan perdagangan, namun kembali melemah dan ditransaksikan di zona merah hingga menyentuh level terendah di 8.868.

“Pelemahan IHSG ini bertolak belakang dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru menguat, menandakan adanya tekanan sentimen global terhadap pasar saham domestik,” ucapnya.

Gunawan menambahkan, pasar juga tengah mencermati proses wawancara kandidat Gubernur Bank Sentral AS yang dinilai memperbesar ketidakpastian arah kebijakan moneter ke depan. Meski terdapat peluang pemangkasan suku bunga lebih cepat jika terjadi pergantian pimpinan The Fed, ketidakpastian tersebut justru memperkuat minat terhadap emas.

Ia menyebut pada perdagangan pagi ini, harga emas tercatat di kisaran USD 4.955 per ons troy dan berpeluang menembus level psikologis USD 5.000 per ons. Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas saat ini diperdagangkan di kisaran Rp2,7 juta per gram, sekaligus mencerminkan tingginya permintaan terhadap aset safe haven.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....