Potensi Bauksit dan Hilirisasi Alumina, menuju Swasembada Aluminium 2029
- 21 Sep 2026 18:59 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Kemandirian menjadi tolok ukur bagi Indonesia untuk mewujudkan swasembada di sektor industri, termasuk menuju kemandirian produksi aluminium sehingga tidak menggantungkan kebutuhan dari negara lain.
Dalam rantai industri aluminium, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang menjadi produsen industri terbesar aluminium nasional berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan nasional, dengan kebutuhan mencapai 1,2 juta ton per tahunnya. Meski, saat ini, PT Inalum (Persero) baru mampu memproduksi aluminium domestik dengan kapasitas 275.000 ton per tahun.
Dari total 275.000 ton tersebut, masing-masing 200.000 MT/tahun untuk produksi ingot, 45.000 MT/tahun untuk produksi alloy, dan 30.000 ton billet yang diproduksi di unit smelter aluminium Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara.
Kondisi ini membuat Indonesia memang masih mengandalkan kebutuhan aluminium domestik dengan melakukan ekspor ke negara lain, mengingat Indonesia masih bisa memproduksi 46 persen. Sedangkan 54 persen masih ekspor ke negara lain, seperti Australia.
POTENSI BAUKSIT
Bauksit, yang merupakan mineral logam sekaligus bijih aluminium menjadi sumber utama menuju hilirisasi aluminium. Bauksit kemudian diolah menjadi alumina melalui proses bayer. Kemudian Alumina dimurnikan melalui proses elektrolisis atau peleburan untuk menghasilkan aluminium primer dan dicetak menjadi ingot dengan kemurnian tinggi. Ingot kemudian diolah menjadi bentuk setengah jadi, mulai dari billet, alloy, slab, sheet, extrusion, rod, dan wire.
Sebelum akhirnya kembali dibentuk menjadi komponen jadi atau sesuai kebutuhan industri. Komponen jadi kemudian dimanfaatkan menjadi bahan baku rantai industri, mulai dari pembuatan rangka pesawat terbang, bodi mobil, hingga kereta cepat.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), pada 2024 Indonesia menempati peringkat kelima dunia sebagai produsen bauksit dengan produksi mencapai 32 juta ton atau di bawah satu peringkat Brazil yang memproduksi 33 juta ton. Dari jumlah tersebut, Indonesia turut menyumbangkan 7,11 persen dari keseluruhan pasokan dunia yang mencapai 450 juta ton. Posisi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemasok utama bahan baku industri aluminium global.

Pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, di Kalimantan Barat. (Foto: Dokumentasi MIND ID)
Di Indonesia, distribusi bijih bauksit sebagai bahan baku alumina diperoleh dari PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam dengan cakupan wilayah Kabupaten Sanggau di Kalimantan Barat, seperti wilayah Tayan, Landak, dan Mempawah yang dikirim menuju pabrik atau kilang pengolahan alumina di SGAR Mempawah melalui Sungai Kapuas maupun melalui jalur darat.
Kemudian bijih bauksit diolah menjadi Alumina sebagai bagian proses produk hilirisasi yang dikelola melalui PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) yang mengoperasikan fasilitas SGAR di Kabupaten Mempawah. Alumina yang diproduksi kemudian dikirim ke smelter aluminium Kuala Tanjung, Batubara untuk diolah menjadi produk aluminium.

Pabrik Peleburan INALUM atau Smelter Aluminium yang berada di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara merupakan infrastruktur utama dari produksi aluminium INALUM. (Foto: Dokumentasi PT INALUM)
HILIRISASI ALUMINA 2029
Jumat, 6 Februari 2026 menjadi harapan baru bagi industri pertambangan, dengan dimulainya pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah fase 2 yang bisa memproduksi 1 juta ton alumina per tahun. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan aluminium nasional yang kini masih di angka 275.000 ton.
Kepala Grup Pengembangan Bisnis dan Strategi PT Inalum (Persero), Al Jufri, mengatakan saat ini pemerintah sedang melakukan pembangunan SGAR fase II di Mempawah untuk menambah produksi alumina 1 juta ton per tahun.
“Hilirisasi memberikan manfaat yang jauh lebih besar ketika investasi mampu menciptakan keterhubungan dari produksi aluminium hingga kebutuhan industri di dalam negeri. Pengembangan investasi dan kemitraan strategis tidak hanya meningkatkan kapasitas dan utilisasi aset, tetapi juga memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat efisiensi rantai pasok, serta membuka peluang tumbuhnya industri pengguna aluminium nasional,” ucap Al Jufri.
Dikatakan Al Jufri, Smelter 2 tersebut nantinya memproduksi alumina dengan target per tahun sebesar 900.000 ton yang dikelola oleh PT BAI (anak perusahaan Inalum). Jika terpenuhi, maka dalam setahun SGAR 1 dan 2 bisa memproduksi 2 juta ton alumina per tahun, sekaligus menyumbang 900.000 ton aluminium per tahun.
“Pada akhirnya, manfaat terbesar dari hilirisasi adalah terciptanya ekosistem industri yang saling menguatkan dan produk aluminium semakin banyak diolah menjadi produk bernilai tambah, mengurangi ketergantungan pada produk impor, menciptakan lapangan usaha, dan memperbesar kontribusi industri aluminium terhadap perekonomian nasional,” ujarnya,” ucap Al Jufri
Lebih lanjut dikatakan Al Jufri, saat ini produksi aluminium Inalum pada 2029 diperkirakan akan mencapai 900.000 ton per tahun. Jumlah tersebut lebih tinggi dari kebutuhan aluminium primer nasional sebesar 520.000 ton per tahun. Jika memenuhi target di 2029, maka Indonesia dikatakan Ultrich tidak perlu lagi melakukan impor alumina, termasuk dari Australia.
RAMAH LINGKUNGAN
Dalam proses peleburan aluminium di Smelter aluminium Kuala Tanjung, INALUM memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Siguragura dan PLTA Tangga sebagai penyuplai listrik 100 persen dengan memanfaatkan Air Sungai Asahan. PLTA Siguragura mampu menghasilkan daya listrik sebesar 240 MW sedangkan PLTA Tangga sebesar 317 MW.
Al Jufri mengatakan INALUM unggul sebagai produsen green aluminium dengan jejak karbon (carbon footprint) hanya 3,5 Ton CO2eq/ton Al (Skop 1 & 2). Angka ini jauh di bawah rata-rata industri global sebesar 12,5 Ton CO2eq/ton Al berkat penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan berkapasitas 603 MW. Atas konsistensi ini, INALUM berhasil meraih PROPER Emas selama 4 tahun berturut-turut (2022–2025).

Bendungan Tangga. (Foto: Dokumentasi PT INALUM)
Pada 2024, kapasitas produksi INALUM meningkat signifikan karena pelaksanaan Proyek Pot Upgrading. Upgrading Pot Technology dengan cara peningkatan kapasitas produksi dengan menaikkan arus ke 235 kA pada 170 tungku di Potline 2. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan teknologi tungku reduksi INALUM dari SUMITOMO SM-17 dengan arus 195 kA menjadi tungku dengan teknologi yang lebih modern dan terkini yaitu SAMI SY 235 dengan arus 235 kA.
Sementara, pemakaian energi listrik terbarukan untuk pengolahan mampu mendukung program energi hijau, lalu efisiensi proses reduksi, pemberdayaan dan keamanan kerja karyawan, serta mendukung produksi aluminium lokal dan tujuan ekspor. Sumber air PLTA ini diperoleh dari Air Danau Toba dan Sungai Asahan dengan memanfaatkan debit air alami. Dengan bendungan pengatur seperti bendungan Siruar, bendungan Sigura-gura, dan bendungan Tangga.
SWASEMBADA ALUMINIUM
Direktur Keuangan PT Inalum, Ken Permana mengatakan, selain menambah pembangunan SGAR Mempawah fase 2, Inalum melakukan pembangunan pabrik peleburan aluminium (smelter) baru berkapasitas 600 ribu ton per tahun yang ditargetkan berproduksi pada 2028, di Mempawah. Hal ini untuk menopang kapasitas produksi aluminium perusahaan di Kuala Tanjung, Sumatra Utara, sebesar 275.000 ton.
Melalui PT BAI, Inalum akan menambah kapasitas pabrik alumina di Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah fase 2 sebesar 1 juta ton, sehingga total kapasitas pabrik alumina naik menjadi 2 juta ton. Hilirisasi Aluminium juga mampu menambah nilai tambah ekonomi sebesar 70 persen.
“Hilirisasi bukan sekadar tentang mengolah sumber daya, tetapi tentang bagaimana Indonesia membangun industri yang mampu menciptakan nilai tambah dari sumber dayanya sendiri. Karena itu, investasi bagi INALUM bukan hanya soal menambah kapasitas produksi, melainkan investasi untuk membangun teknologi, memperkuat ekosistem industri, dan mendorong tumbuhnya industri pengguna aluminium di dalam negeri,” ujar Ken Permana.

Produk aluminium jenis Ingot. (Dokumentasi INALUM)
Saat ini, INALUM menguasai 46% pangsa pasar aluminium domestik dengan kapasitas peleburan 275.000 ton per tahun. Selain memenuhi kebutuhan nasional, saat ini Inalum telah mengekspor produksi aluminium ke 24 negara, diantaranya 11 negara Asia, 9 eropa, dan 4 amerika/afrika. Kondisi ini tentu mendukung Indonesia bisa menguasai pasar produsen aluminium global, jika di 2029 Indonesia bisa mencapai swasembada alumunium.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap investasi yang masuk ke industri aluminium memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional, sehingga aluminium tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi menjadi fondasi bagi tumbuhnya industri Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan berdaya saing global,” katanya.
Saat ini, INALUM juga mencatatkan peningkatan peringkat korporasi Fepindo menjadi idAA/Stable dari sebelumnya idAA-/Stable yang menegaskan semakin kuatnya fundamental dan ketahanan keuangan perusahaan.
“Faktor Utama pendukung peringkat antara lain tingginya potensi dukungan dari perusahaan induk para peran strategis INALUM seperti proyek vital nasional SGAR dan Smelter II. Lalu, posisi pasar domestik yang dominan dan efisiensi biaya kelas dunia, serta keuangan solid siap mendukung pendanaan proyek besar,” ujar Ken Permana.
Tidak hanya itu, Hilirisasi aluminium juga berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi. Diantaranya meningkatkan produk domestik bruto sebesar Rp71,8 triliun/tahun atau meningkat 160 persen. Lalu, penerimaan negara sebesar Rp6,6 Triliun/tahun atau naik 450 persen, serta cadangan devisa negara Rp52 triliun/tahun atau naik 394 persen.
Kemudian juga berdampak pada peningkatan kesempatan bekerja bagi 65.472 jiwa untuk menghasilkan 900.000 ton/tahun produksi aluminium dengan total investasi sebesar Rp104,5 triliun.
Alur hilirisasi dari proses olahan bahan baku Bauksit (PT ANTM) menjadi alumina (PT BAI) hingga dikirim ke smelter Aluminium di Kuala Tanjung (Inalum), menjadi bukti bahwa bauksit menjadi denyut nadi sekaligus jantung rantai industri aluminium nasional. Tidak hanya itu, alumina bisa menjadi embrio terwujudnya swasembada alumunium nasional untuk dunia di 2029.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....