Harga CPO Berpeluang Tembus 5.000 Ringgit per Ton

  • 20 Agt 2026 07:54 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dunia diproyeksikan masih memiliki ruang untuk menguat dalam waktu dekat. Sejumlah faktor, mulai dari peningkatan permintaan hingga ancaman El Nino yang berpotensi menekan produksi sawit, dinilai dapat menjadi pendorong harga.

Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan harga CPO saat ini berada di kisaran 4.754 ringgit per ton. Ia menilai harga CPO berpeluang menembus level psikologis 5.000 ringgit per ton pada tahun ini.

“Harga CPO saat ini ditransaksikan di kisaran 4.754 ringgit per ton. Saya melihat harga CPO berpeluang untuk menembus level psikologis 5.000 di tahun ini,” ujar Gunawan, Rabu, 19 Agustus 2026.

Salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan harga adalah meningkatnya permintaan produk turunan minyak kelapa sawit menjelang perayaan Deepawali di India pada November mendatang.

Selain faktor permintaan, ancaman El Nino juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi produksi sawit nasional. Gunawan memperkirakan musim kemarau tahun ini berpeluang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga dapat menekan sisi pasokan.

Menurutnya, tren penguatan harga CPO berpeluang berlanjut hingga akhir 2026, didorong sejumlah faktor seperti peningkatan permintaan, ancaman El Nino, serta kebijakan penggunaan B50 sebagai bahan baku solar.

Di sisi lain, peningkatan stok minyak sawit Malaysia menjadi salah satu faktor yang berpotensi menahan laju kenaikan harga. Pasokan CPO Malaysia diperkirakan meningkat dalam waktu dekat, meski peningkatan tersebut dinilai tidak akan berlangsung lama.

Sementara dari sisi permintaan, perayaan Deepawali diperkirakan dapat mendongkrak konsumsi minyak sawit domestik India hingga sekitar delapan persen dibandingkan kondisi normal.

Potensi penguatan harga CPO dapat memberikan ruang bagi peningkatan pendapatan petani sawit. Namun, kenaikan harga tersebut belum tentu sepenuhnya meningkatkan daya beli petani karena masih dibayangi kenaikan biaya input produksi.

Gunawan mengatakan peningkatan biaya produksi dan penambahan barang modal dapat memberikan tekanan terhadap Nilai Tukar Petani atau NTP subsektor perkebunan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....