Harga Sawit Naik, Kenaikan Pupuk Tekan Pendapatan Petani

  • 16 Apr 2026 22:21 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit belum sepenuhnya menguntungkan petani karena dibayangi lonjakan biaya produksi, khususnya pupuk.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, harga sawit sempat menembus di atas Rp3.000 per kilogram. Kenaikan ini sejalan dengan harga crude palm oil (CPO) global yang sempat berada di kisaran 4.840 ringgit per ton, serta didorong pelemahan Rupiah yang berada di atas 17.100 per dolar AS.

“Kenaikan harga sawit memang memberikan tambahan pendapatan, apalagi dengan pelemahan Rupiah yang menguntungkan eksportir. Namun di sisi lain, beban biaya produksi juga ikut meningkat,” ujar Gunawan, Kamis, 16 April 2026.

Kenaikan biaya tersebut terutama berasal dari harga pupuk non-subsidi. Harga pupuk urea misalnya, naik dari sekitar Rp350 ribu per zak pada 2025 menjadi Rp550 ribu per zak di April, atau meningkat sekitar 57 persen. Selain itu, sejumlah jenis pupuk lain seperti NPK, TSP, hingga Phonska juga mengalami kenaikan signifikan.

Menurutnya, kondisi ini berpotensi menekan daya beli petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP), meskipun sebelumnya sempat berada di level cukup tinggi.

“Kenaikan harga pupuk akan mendorong peningkatan indeks harga yang dibayar petani. Sementara itu, harga yang diterima petani berpotensi hanya naik tipis atau bahkan terkoreksi, sehingga margin petani bisa tertekan,” ucapnya.

Gunawan menambahkan, situasi ini perlu menjadi perhatian karena jika berlangsung dalam jangka panjang, dapat mempengaruhi kesejahteraan petani sawit, terutama di tengah dinamika harga komoditas global yang masih fluktuatif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....