Pelemahan Rupiah Picu Lonjakan Biaya Produksi Tempe dan Tahu
- 09 Jun 2026 20:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah memberikan tekanan besar kepada pelaku usaha mikro dan kecil yang bergerak di sektor produksi tempe dan tahu.
Menurutnya, harga kedelai sebagai bahan baku utama mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Jika pada Januari 2026 harga kedelai masih berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp9.600 per kilogram, kini harganya telah mencapai Rp10.800 per kilogram atau naik hingga sekitar 16,7 persen.
"Kenaikan harga kedelai ini sangat membebani pelaku usaha tahu dan tempe, terutama skala mikro dan kecil yang margin keuntungannya relatif terbatas," kata Gunawan, Senin, 8 Juni 2026.
Ia menjelaskan, produsen tahu yang mengolah sekitar 400 kilogram kedelai per hari harus menanggung tambahan biaya bahan baku sedikitnya Rp480 ribu per hari. Kenaikan harga minyak goreng sekitar Rp2.000 per kilogram turut menambah beban operasional hingga mendekati Rp500 ribu per hari.
"Dalam sebulan, tambahan biaya operasional akibat kenaikan harga kedelai saja bisa mencapai sekitar Rp15 juta," ujarnya.
Meski demikian, kenaikan harga jual produk di tingkat konsumen belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan biaya produksi. Sebagai contoh, harga satu papan tahu ukuran kecil hanya naik dari Rp36 ribu menjadi Rp38 ribu.
Gunawan menilai kenaikan harga kedelai saat ini tergolong tidak lazim. Berdasarkan pola tahun-tahun sebelumnya, periode pertengahan tahun biasanya merupakan masa ketika harga kedelai berada pada level yang relatif rendah.
"Biasanya harga kedelai masih bisa bertahan di sekitar Rp9.000 per kilogram pada periode seperti sekarang. Kenaikan harga umumnya terjadi pada kuartal keempat setiap tahun," katanya.
Ia memperkirakan harga kedelai berpotensi menembus Rp13 ribu per kilogram apabila pelemahan rupiah bertahan hingga akhir tahun.
Di sisi lain, produsen tempe juga menghadapi tekanan serupa. Untuk menjaga harga jual tetap terjangkau, sebagian pelaku usaha memilih mengurangi ukuran produk yang dipasarkan.
Sebagai contoh, tempe yang sebelumnya memiliki berat sekitar 250 gram dengan harga Rp2.500 kini dikurangi menjadi sekitar 230 gram dengan harga yang tetap sama.
Menurut Gunawan, praktik tersebut menunjukkan terjadinya fenomena shrinkflation, yaitu kondisi ketika ukuran atau berat produk berkurang namun harga jual tidak berubah.
"Produsen tempe tidak hanya menghadapi kenaikan harga kedelai, tetapi juga kenaikan harga plastik kemasan yang turut meningkatkan biaya produksi," ujarnya.
Selain shrinkflation, di sejumlah daerah juga ditemukan kenaikan harga tempe hingga sekitar 20 persen selama Mei 2026. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi pada produk olahan kedelai masih cukup kuat dan berpotensi berlanjut apabila nilai tukar rupiah tetap berada dalam tren pelemahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....