Warga Keluhkan Kelangkaan Minyakita di Pasar Medan Pekan Ini

  • 13 Apr 2026 10:41 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pemerintah menugaskan Bulog dengan dua tugas utama. Yang pertama berkaitan dengan bahan pangan nasional, khususnya distribusi Minyakita dalam rangka bantuan pangan. Untuk periode ini, bantuan pangan diberikan berupa beras dan Minyakita, yang ditujukan kepada sekitar 1,7 juta orang di Sumatera Utara. Setiap penerima akan mendapatkan 4 liter Minyakita dan 20 kg beras. Bantuan ini akan dibagikan langsung oleh pemerintah melalui tingkat kecamatan, dengan tim Bulog yang turun langsung untuk menyalurkannya. Jika dihitung, untuk 1,7 juta orang penerima, dibutuhkan sekitar 7.027.000 liter Minyakita dan sekitar 35.000 ton beras, yang akan dilaksanakan di setiap kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Hal ini dikatakan Budi Cahyanto (Pimpinan Wilayah Bulog Sumut) saat menjadi narasumber Apirasi Sumut di Programa 1 RRI Medan FM 94,3 MHz, Senin ( 13/4/2026 ) pagi.

Labih lanjut Budi mengatakan bahwa tugas kedua dari pemerintah, sesuai dengan ketentuan Permendak tahun 2025, Bulog menjadi D1 dengan id book, dengan jumlah minimal 35% dari total Minyakita yang diproduksi. Mengenai ketersediaan stok, pada Februari 2026, saya memastikan bahwa stok Minyakita di gudang Bulog Sumut aman, dengan sekitar 1,5 juta liter yang siap didistribusikan ke seluruh wilayah Sumut. Namun, pada awal April 2026, terdapat laporan bahwa stok Minyakita di tingkat pengecer mulai langka. Hal ini dikarenakan stok yang ada saat ini sedang dialokasikan untuk program bantuan pangan, sehingga Bulog Medan belum dapat melayani penyaluran Minyakita ke pengecer.

“ Untuk distribusi dan kemitraan, sejak Januari hingga Maret 2026, Bulog Sumut telah mendistribusikan lebih dari 4 juta liter Minyakita ke seluruh mitra di Sumut. Saluran distribusi yang digunakan meliputi pengecer di pasar tradisional, Koperasi Merah Putih, koperasi atau outlet instansi pemerintah, serta RPK/pengecer di luar pasar. Kami juga terus berupaya memperkuat kemitraan dengan para pedagang eceran, dengan syarat mereka memiliki nomor induk berusaha (NIB) dan berkomitmen untuk menjual dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah, “ jelas Budi.

Menutup dialog Budi memberikan penjelasan mengenai harga Minyakita, Bulog Sumut menjual Minyakita kepada pengecer dengan harga Rp14.500 per liter. Kami menghimbau para pengecer agar menjual kepada konsumen akhir dengan harga maksimal Rp15.700 per liter. Jika masih ada pengecer yang menjual Minyakita di atas HET, kemungkinan hal itu disebabkan karena mereka masih memiliki stok dari distributor lain sebelum bermitra dengan Bulog.

Sedangkan Prof. Dr. Muhammad Fitri Rahmadana, M.Si. (Guru Besar Ilmu/Kepakaran Ekonomi Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Daerah FE Unimed) yang juga menjadi narasumber Aspirasi Sumut mengatakan keterkaitan kelangkaan Minyakita kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, faktor penyebab kelangkaan, seperti fluktuasi harga CPO global, realisasi DMO yang rendah, alokasi stok yang digunakan untuk program bantuan pangan, serta masalah dalam sistem distribusi.

“ Kedua, dampak ekonomi yang ditimbulkan. Kelangkaan dan kenaikan harga Minyakita tentu akan berdampak pada ekonomi daerah, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada Minyakita sebagai kebutuhan pokok, serta bagi sektor usaha kecil dan menengah yang menggunakan Minyakita sebagai bahan baku atau penunjang operasional. Ketiga, solusi dan rekomendasi yang dapat diberikan. Sebagai langkah untuk mengatasi masalah kelangkaan Minyakita, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi minyak goreng dalam negeri, memperbaiki sistem distribusi agar lebih efisien dan merata, memperketat pengawasan harga di pasar, serta mengembangkan kebijakan yang lebih berkelanjutan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga Minyakita bagi masyarakat, “ ungkap Muhammad Fitri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....