Cerita Rakyat Dinilai Penting Wariskan Nilai Budaya
- 29 Agt 2026 12:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Cerita rakyat tidak hanya menjadi kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan pesan kehidupan masyarakat. Karena itu, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan cerita rakyat agar tidak semakin terlupakan.
Hal tersebut disampaikan Koko Hendri Lubis dalam Festival Ngobrol Buku 2026: Lokakarya Penulisan Cerpen "Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern" di Roha Cafe, Jalan Abdullah Lubis, Kota Medan, pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Koko mengatakan, cerita rakyat dapat menjadi salah satu media pendidikan informal bagi anak. Orang tua dapat mengenalkan budaya serta nilai budi pekerti melalui kebiasaan menceritakan atau membacakan folklor.
“Dalam pendidikan informal di rumah dan keluarga, orang tua diminta memberikan pengetahuan budaya dan ajaran soal budi pekerti kepada anak-anaknya. Salah satu caranya adalah membacakan cerita rakyat,” katanya.
Menurutnya, penyebaran cerita rakyat secara lisan maupun tertulis dapat memberikan pemahaman kepada anggota keluarga mengenai kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya. Cerita tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan kembali kehidupan dan kondisi masyarakat pada masa lalu.
Dalam pemaparannya, Koko mengangkat sejumlah folklor Sumatera Utara untuk menunjukkan pesan yang terdapat di balik sebuah cerita. Salah satunya kisah yang berlatar Tanah Karo dengan persoalan perjudian dalam keluarga. Cerita tersebut menggambarkan dampak buruk perjudian sekaligus perjuangan tokohnya bertahan menghadapi persoalan kehidupan.
Ia juga membahas kisah Batu Gantung yang menggambarkan hubungan anak dengan orang tua serta persoalan ketika suara hati anak tidak didengarkan. Contoh lainnya adalah cerita Putri Hijau yang memuat pertentangan dalam kerajaan dan menggambarkan bahwa perbuatan baik maupun buruk memiliki konsekuensi.
“Cerita rakyat merupakan wahana untuk mengingatkan kembali kenangan masa lalu yang selama ini terlupakan,” ujarnya.
Menurut Koko, nilai yang terkandung dalam folklor dapat kembali dihadirkan melalui karya sastra masa kini. Penulis tidak harus menyampaikan pesan secara langsung, tetapi dapat membangunnya melalui tindakan tokoh, konflik, serta perjalanan cerita sehingga pembaca menangkap nilai tersebut secara alami.
Festival Ngobrol Buku 2026 yang digelar Ngobrol Buku Indonesia tersebut diikuti peserta kategori pelajar SMA sederajat, mahasiswa, dan umum. Melalui penulisan cerpen berbasis folklor, cerita rakyat Sumatera Utara diharapkan tetap dikenal sekaligus relevan bagi generasi pembaca masa kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....