Dunia hanya Fatamorgana
- 26 Apr 2026 16:56 WIB
- Medan
RRI.CO.ID - Medan - Fatamorgana dunia adalah metafora kehidupan fana yang menipu, tampak indah dan nyata dari jauh, namun tidak abadi. Dunia digambarkan sebagai tempat ujian yang sementara, permainan dan senda gurau bukan ujian akhir, sehingga manusia di ingatkan untuk tidak terlena dan harus mengutamakan akhirat.
Dalam kajian Mutiara Pagi, edisi Kamis, 23 April 2026 dengan judul: Dunia hanya fatamorgana, Ustadz Abdul Malik Sudiro menjelaskan, dunia dipandang sebagai fatamorgana, karena kesenangannya sering kali memperdaya tampak menawarkan kebahagiaan sejati, namun berakhir dengan perpisahan atau kematian.
| Baca juga: Motivasi quantum Nabi Musa Alaihisalam |
Dikatakan, setiap yang bernyawa pasti meninggal, bahkan sejak usia 4 bulan dalam kandungan ibu kita, telah ditiupkan Ruh dalam janin, yang ditentukan salah-satunya adalah batas usia hidup kita di dunia. Disebutkan Abdul Malik Sudiro, apa yang telah kita lakukan semasa hidup, maka akan mendapat balasan yang hakiki di hari akhirat.
"Apa-apa saja yang kita lakukan semasa hidup di dunia, apakah amal kebaikan, atau keburukan,di hari akhirat, kita akan mendapatkan balasan yang sempurna dari Allah SWT, kemenangan yang hakiki adalah hari akhirat, sementara kesenangan di dunia adalah bersifat fatamorgana," ujarnya.
Program Mutiara Pagi yang berlangsung setiap selepas salat subuh, melalui Pro1 RRI Medan, dari pukul 05.30 s.d 05.50 WIB turut juga diberi kesempatan tanya jawab melalui line WA 0811616943. Afni dari Pancing Medan bertanya. Bagaimana cara menghilangkan rasa sakit hati kita pada saudara sendiri, jawabnya, yang namanya sakit hati, tersinggung itu ada pada manusia.
"Bagaimana modal untuk memaafkan saudara kita, manusia itu tidak sempurna, kita harus banyak muharabah atau instropeksi diri, dan kita harus menghitung kebaikan orang lain, agar mudah memaafkan kesalahan orang lain, kemudian ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah memaafkan, kita harus ingat petunjuk Alqur'an surah Ali Imran ayat 185, selanjutnya berdo'a kepada Allah, agar mudah memaafkan, karena Allah yang membolak balik hati kita," kata Abdul Malik Sudiro.
Selanjutnya Faridah Hanum di Seumadam bertanya, bagaimana cara mengamalkan dalam membaca Alqur'an. Jawabnya, biasa kita membaca Alqur'an dengan bahasa arab, seperti tadarus pada bulan ramadan.
"Setelah kita membaca Alquran, harus kita baca artinya atau tafsir dan keterangannya, maka akan faham isi dari kandungan Alqur'an, dan kita akan merenungkan serta akan berkesan di diri kita," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....